Harga TBS Sawit di Pesisir Selatan Naik Jadi Rp1.500 per Kg, Petani Masih Keluhkan Mahalnya Pupuk NPK

Penulis: Ronal Siregar  •  Rabu, 03 Juni 2026 | 18:04:24 WIB
Harga TBS kelapa sawit di Pesisir Selatan naik menjadi Rp1.500 per kilogram pada 3 Juni 2026.

PESISIR SELATAN — Setelah anjlok drastis hingga menyentuh angka Rp700 per kilogram pada Senin (25/5/2026) lalu, harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit di Kabupaten Pesisir Selatan mulai menunjukkan tren pemulihan. Berdasarkan transaksi antara petani dan pengepul di lapangan, harga TBS hari ini, Rabu (3/6/2026), sudah bertengger di posisi Rp1.500 per kilogram.

Kapan Kenaikan Mulai Terasa?

Petani setempat, Tami (49), mengungkapkan bahwa geliat kenaikan harga sudah mulai tercium sejak Jumat (29/5/2026). Saat itu, harga TBS baru berada di kisaran Rp1.100 per kilogram. Dalam hitungan hari, harga terus merangkak naik hingga mencapai level saat ini.

“Hari ini sudah naik di harga Rp1.500 per kilogram,” ujar Tami kepada Langgam.id, Rabu (3/6/2026). Ia optimistis harga akan kembali ke kondisi normal pada awal Juni mendatang, meskipun para petani berharap harga bisa kembali menembus angka Rp2.000 per kilogram seperti sebelum masa anjlok.

Beban Pupuk NPK yang Tak Kunjung Reda

Di balik kabar baik kenaikan harga jual, para pekebun sawit di Pesisir Selatan masih dihadapkan pada tekanan biaya produksi yang tinggi. Tami menjelaskan, harga satu karung pupuk NPK saat ini sudah mencapai lebih dari Rp800 ribu. Angka ini dinilai sangat memberatkan, terutama ketika harga sawit sedang tidak menentu.

“Saat ini pupuk NPK saja sudah lebih dari Rp800 ribu per karung. Jadi kalau harga sawit tinggi tentu sebanding dengan hasil panen,” ucapnya.

Harapan Petani pada Pemerintah Daerah

Fluktuasi harga sawit yang terjadi secara tiba-tiba menjadi kekhawatiran tersendiri bagi petani. Mengingat mayoritas masyarakat di Pesisir Selatan menggantungkan perekonomian keluarga dari sektor perkebunan sawit, stabilitas harga menjadi faktor krusial.

“Kalau sawit anjlok, kami petani kecil tentu kesulitan karena semua kebutuhan sekarang serba mahal,” kata Tami. Ia berharap pemerintah daerah dapat memberikan perhatian lebih terhadap mekanisme pasar dan membantu menekan biaya saprodi agar keuntungan petani tidak tergerus habis.

Reporter: Ronal Siregar
Sumber: langgam.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top