PADANG — Zainul menegaskan bahwa organisasi yang sehat pasti memiliki dinamika dan konflik, terutama saat perebutan kursi ketua yang hanya satu. Namun, ia meminta para kader tidak larut dalam euforia kemenangan atau kekecewaan karena kalah.
"Yang menang bisa jumawa, yang kalah bisa kecewa. Tapi kalau yang dikedepankan adalah peran, maka jabatan apa pun tidak menjadi persoalan," kata Zainul dalam arahannya, baru-baru ini.
Menurut Zainul, banyak orang memegang posisi tinggi namun gagal mengambil peran penting. Sebaliknya, kader tanpa jabatan strategis justru kerap menjadi penentu arah organisasi. Ia mencontohkan dinamika di lembaga legislatif.
"Kadang ada anggota dewan biasa yang justru menjadi rujukan dan tempat konsultasi sebelum keputusan penting diambil. Ini menunjukkan bahwa posisi tidak selalu menentukan dominasi seseorang," ujarnya.
Zainul secara khusus menyoroti sikap ketua DPC yang kerap merasa terancam dengan potensi anak buahnya. Ia menilai pemimpin yang baik justru harus merangkul dan memberdayakan kader berkapasitas tinggi.
"Kalau ada ketua DPC takut menjadikan seseorang sebagai sekretaris karena khawatir tersaingi, berarti belum layak menjadi ketua. Pemimpin tidak boleh takut dengan potensi kader yang ada di bawahnya," tegasnya.
Dalam kesempatan itu, Zainul juga meminta seluruh anggota legislatif PKB di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota diakomodasi dalam kepengurusan partai. Ia menilai sinergi partai dan fraksi akan menguat jika anggota dewan menduduki posisi strategis.
Ia merekomendasikan lima posisi kunci yang ideal diisi anggota dewan: Ketua DPC, Sekretaris DPC, Bendahara DPC, Ketua Syuro, atau Sekretaris Syuro.
"Jangan sampai ada anggota dewan yang tidak masuk dalam lima posisi penting itu. Kalau ada anggota dewan tidak masuk struktur inti, yang rugi adalah partainya. Yang untung justru anggota dewannya karena tidak memiliki beban organisasi," kata Zainul.
Zainul menambahkan, pola pikir berbasis peran inilah yang membuat PKB konsisten meningkatkan perolehan suara dan kursi legislatif sejak 2009. Di bawah kepemimpinan Muhaimin Iskandar, partai mengembangkan nalar berbagi peran dan akses politik sehingga setiap kader memiliki ruang tumbuh yang sama.
"Nalar berbagi peran dan berbagi akses inilah yang terus dikembangkan PKB. Jangan ada pemikiran untuk menyingkirkan lawan politik di internal partai," pungkasnya.