SUMATERA BARAT — Indonesia tidak sekadar membuka wilayah eksplorasi baru. Pemerintah juga menawarkan peluang pengembangan proyek energi terpadu, termasuk pembangunan kilang minyak dan terminal penyimpanan bersama kelompok usaha Rusia.
"Saya kira kami mempertimbangkan semua prospek. Kami berdiskusi mengenai kerja sama dengan kelompok-kelompok Rusia untuk mengembangkan proyek-proyek bersama, seperti kilang dan terminal penyimpanan di bidang energi," ujar Prabowo dalam keterangan resmi yang dikutip di Jakarta.Prabowo mengakui Indonesia memiliki melimpah pasokan gas alam cair (LNG). Karena itu, impor gas dari Rusia dinilai tidak mendesak untuk sejumlah sektor.
Kendati demikian, peluang pemanfaatan teknologi Rusia tetap terbuka. Transfer teknologi di sektor hulu menjadi nilai tambah yang ingin dikejar dari kemitraan ini.
Forum yang sama juga mengungkap progres nyata kerja sama kedua negara. Nota kesepahaman (MoU) telah diteken antara perusahaan pupuk Indonesia dan salah satu kelompok usaha terbesar Rusia.
Proyek bersama ini diarahkan untuk pengembangan produksi pupuk berbasis gas di Timur Jauh Rusia. "Jadi, proyek-proyek ini berjalan sangat baik dan sudah berkembang cukup jauh," kata Prabowo menjelaskan status terbaru negosiasi.
Sektor pengolahan pertambangan juga menjadi sorotan. Produsen aluminium asal Rusia, Rusal, dipastikan masuk pasar Indonesia dalam skala besar.
"Rusal akan masuk ke Indonesia dalam skala besar untuk mengembangkan kilang bersama kelompok-kelompok Indonesia," ungkapnya. Langkah ini menegaskan arah investasi yang tidak berhenti pada eksplorasi sumber daya alam mentah, tetapi membangun rantai nilai industri di dalam negeri.
Prabowo menyatakan Indonesia masih membuka ruang lebih luas untuk memperluas kerja sama bilateral. Ia menargetkan forum ini menjadi batu loncatan bagi peningkatan investasi yang selama ini kerap berjalan lambat.
"Jadi, kami masih menantikan semakin banyak kerja sama bersama antara Rusia dan Indonesia," pungkas Presiden dalam pidatonya di Vladivostok.
Undangan langsung kepada investor Rusia ini menjadi sinyal perubahan strategi pemerintah dalam mendatangkan modal asing. Jika terealisasi, investasi di 138 blok eksplorasi tersebut berpotensi mempercepat target peningkatan lifting minyak dan gas nasional yang selama ini mengalami tren penurunan.