Padang, Sumatera Barat — Gubernur Lemhannas Ace Hasan Syadzily mengingatkan generasi muda, khususnya mahasiswa di Universitas Andalas, agar tidak terjebak budaya serba instan akibat penggunaan kecerdasan artifisial yang berlebihan. Menurutnya, ketergantungan pada AI dikhawatirkan menggerus proses pembelajaran dan menjadi ancaman baru bagi ketahanan nasional di era digital.
PADANG — Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) RI Ace Hasan Syadzily menilai kebiasaan mahasiswa menyelesaikan tugas dalam hitungan menit dengan bantuan AI merupakan gejala berbahaya. Ia menegaskan bahwa proses belajar yang hilang justru akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia Indonesia ke depan.
"Instan tanpa proses. Ini juga berbahaya. Mahasiswa jika diberi tugas bisa menyelesaikan dalam 2 menit menggunakan AI," ujarnya dalam Kuliah Umum di Universitas Andalas, Padang, Kamis.
Di hadapan sivitas akademika, Ace Hasan menjelaskan bahwa AI bekerja berdasarkan algoritma dan data. Celah dari sistem inilah yang membuat hasil informasi dari AI tidak selalu mencerminkan kebenaran.
"Informasi yang salah dapat terlihat benar ketika didukung algoritma, begitu pula informasi yang benar dapat dinilai salah," kata dia.
Karena itu, teknologi digital harus diposisikan sebagai instrumen pendukung kemajuan, bukan pengganti nalar kritis manusia. Verifikasi tetap diperlukan di tengah derasnya arus informasi.
Lebih lanjut, Ace Hasan memaparkan bahwa ketahanan nasional pada era modern tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer. Saat ini faktor ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, hingga demografi saling berkaitan dan menentukan daya tahan bangsa.
Salah satu aspek yang ia soroti adalah sosial budaya. Menurutnya, aspek ini memegang peran penting dalam membentuk individu yang mampu menghadapi perubahan peta kekuatan dunia, termasuk yang terjadi di ruang digital.
Untuk memperkuat kesadaran kebangsaan, Ace Hasan mengajak generasi muda mempertahankan nilai budaya lokal. Ia mencontohkan filosofi Sumatera Barat, "Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah", sebagai landasan membentuk karakter masyarakat yang adaptif sekaligus religius.
Ia pun mendorong institusi pendidikan menginternalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan akademik. Hal ini dinilai penting agar pemahaman kebangsaan tidak berhenti pada tataran konseptual.
"Nilai-nilai Pancasila harus terus diinternalisasi dan menjadi bagian penting dalam pendidikan di era digital termasuk melalui pembelajaran di perguruan tinggi," ujarnya.