SUMATERA BARAT — Keputusan ini menyusul ditemukannya gangguan ketersediaan beras di sejumlah toko modern. Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan jaringan ritel modern dan pemangku kepentingan terkait untuk memastikan distribusi berjalan lancar.
"Untuk semakin memperkuat pasokan di pasar, Bulog juga telah berkoordinasi dengan jaringan ritel modern di seluruh Indonesia dan menyiapkan penggelontoran 110.000 ton beras dalam satu bulan," kata Rizal dalam keterangan resminya, Senin (7/9).
Penggelontoran ini tidak mengganggu ketahanan stok nasional. Hingga 5 September 2026, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog tercatat 4,9 juta ton, tersebar di berbagai gudang di Indonesia.
Dengan stok setebal itu, Bulog menilai masih memiliki ruang gerak luas untuk intervensi pasar. Sepanjang 2026 hingga awal September, penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) saja telah menembus 756.000 ton.
Kelangkaan di ritel modern biasanya dipicu gangguan distribusi dari sentra produksi ke pusat konsumsi. Jika dibiarkan, kondisi ini memicu kenaikan harga yang tidak wajar dan berujung pada tekanan inflasi.
"Karena penugasan Bulog yang paling utama adalah menjaga stabilisasi harga," tegas Rizal.
Bulog tidak bergerak sendiri. Mereka berkoordinasi dengan Satgas Pangan, TNI, Polri, pemerintah daerah, hingga pengelola pasar untuk memantau kondisi pangan dari sisi stok, distribusi, dan harga di tingkat konsumen.
Koordinasi ini memungkinkan intervensi dilakukan lebih cepat jika ditemukan indikasi kenaikan harga tidak wajar atau gangguan pasokan di lapangan.
Pasokan tambahan tidak hanya disalurkan ke supermarket dan minimarket. Bulog juga mengarahkan distribusi ke pasar-pasar tradisional yang menjadi titik pemantauan harga pangan nasional.
Langkah ini memperluas akses masyarakat terhadap beras dengan harga kompetitif sekaligus memperkuat pasokan di tingkat konsumen akhir. Dengan demikian, daya beli masyarakat terjaga dan inflasi pangan dapat dikendalikan.
Intervensi pasar yang masif ini membuktikan Bulog menjalankan perannya sebagai operator stabilisasi harga, bukan sekadar pengelola stok. Ketika mekanisme pasar terganggu, Bulog hadir sebagai penyangga utama yang menjaga harga tetap masuk akal di mata konsumen sekaligus menguntungkan petani.