SUMATERA BARAT — Kekhawatiran meluasnya dampak bencana terhadap sektor pangan mulai terjawab. Abu vulkanik erupsi Anak Krakatau sempat menyebar ke lima provinsi. Namun, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan belum ada laporan kerusakan lahan pertanian yang masuk ke kementeriannya.
"Belum, belum," ujar Amran singkat saat ditemui wartawan di kantor Kementerian Koordinator Bidang Pangan, Jakarta Pusat, Senin (7/9).
Pernyataan itu meluruskan kabar yang beredar mengenai empat lahan pertanian yang diduga terdampak material vulkanik. Amran mengaku pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan dan pengujian di lapangan untuk mendapatkan gambaran utuh kondisi lahan pascabencana.
Erupsi Gunungapi Anak Krakatau berlangsung sekitar 25 jam. Abu vulkaniknya menyebar ke Banten, sebagian Jawa Barat, DKI Jakarta, Lampung, dan Bengkulu. Di balik kekhawatiran itu, Amran melihat sisi lain dari material vulkanik tersebut.
Menurut dia, abu vulkanik mengandung mineral yang bermanfaat untuk kesuburan tanah pertanian. "Biasanya itu bisa menyuburkan tanah. Iya, tetapi moga-moga tidak merusak," katanya.
Meski demikian, pemerintah berharap erupsi berkepanjangan tidak mengganggu aktivitas produksi para petani di wilayah terdampak.
Soal ketersediaan pangan, Amran menegaskan tidak ada potensi kelangkaan komoditas pertanian akibat bencana beruntun ini. Stok berbagai komoditas utama dipastikan dalam kondisi aman.
"Oh enggak, enggak, aman, aman," tegasnya.
Ia juga belum menerima laporan kerusakan lahan pertanian yang disebabkan gempa di sejumlah wilayah sebelumnya. Pemerintah, lanjut dia, terus memantau perkembangan di lapangan.
Dalam kesempatan yang sama, Amran menyoroti kesejahteraan petani yang tercermin dari Nilai Tukar Petani (NTP). Angka ini menjadi indikator daya beli petani dibandingkan biaya produksinya.
"Kesimpulan semuanya, NTP berapa? Ada yang tahu? Tertinggi sepanjang sejarah," ujarnya.
Pernyataan itu menunjukkan sektor pertanian sempat berada dalam momentum positif sebelum rangkaian bencana terjadi. Kini, perhatian tertuju pada hasil asesmen lapangan untuk memastikan momentum tersebut tidak terganggu oleh dampak erupsi maupun gempa.