Wibawa Pejabat Publik Tak Datang dari Sawah Turun ke Kali, Ini Pesan Pepatah Minangkabau soal Tuah

Penulis: Ronal Siregar  •  Kamis, 10 September 2026 | 11:31:31 WIB
Wibawa pejabat publik dalam pandangan budaya Minangkabau disebut tuah yang tidak dapat direkayasa.

PADANG — Wibawa bukan barang yang bisa dibeli dengan uang bergepok atau sekeranjang emas batangan. Ia juga tidak bisa dipaksa masuk ke dalam diri seseorang. Dalam pandangan budaya Minangkabau, wibawa adalah rahmat Tuhan yang menyatu dengan diri manusia tanpa dibuat-buat.

Karena itu, wibawa tidak hinggap pada setiap orang. Ia hadir pada mereka yang konsisten bertindak dan lurus antara kata dengan perbuatan.

Tuah dalam Pepatah Minangkabau: Jangan Diajan-ajan

Masyarakat Minangkabau menyebut wibawa sebagai tuah. Ada pepatah lama yang layak diingat para pejabat publik: "Tuah jan diajan-ajan, beko cirik nan kalua" — wibawa jangan diajan-ajan, nanti yang keluar malah tahi.

Artinya, wibawa yang direkayasa justru akan memunculkan hal yang memalukan. Ia tidak bisa dipaksakan hadir lewat cara-cara instan.

Ketika Wibawa Hilang dari Diri Pejabat

Di pasar ramai atau di palanta lepau kopi, celotehan soal wibawa pemimpin sering muncul. Ada yang menilai seorang presiden berwibawa karena negaranya aman dan bangsa asing segan. Ada pula yang menilai pemimpin lain kurang berwibawa karena dipandang enteng.

Wibawa yang hilang diibaratkan seperti cangkong siput: isinya sudah tidak ada, tinggal kerabangnya saja. Hilangnya wibawa biasanya akibat perbuatan yang merendahkan atau menghinakan diri sendiri.

Orang yang kehilangan wibawa telah melakukan tindakan tidak pantas, tidak sesuai statusnya di masyarakat. Bisa presiden, raja, gubernur, walikota, sampai kepala rumah tangga.

Korupsi dan Dusta Pengikis Wibawa Paling Cepat

Salah satu perbuatan yang paling potensial melenyapkan wibawa pejabat publik adalah korupsi. Sudah banyak politikus dan birokrat kehilangan wibawa karena tindakan ini.

Hal serupa berlaku bagi pejabat yang suka berdusta dan berbohong. "Kata-katanya tak dapat dipegang", begitu kata rakyat. Itu tanda wibawanya sudah hilang.

Wibawa yang sudah mengirap tidak bisa diganti dengan jumlah uang rakyat yang diembat, atau dengan gunung dusta yang diperbuat. Banyak pejabat lapar duit rakyat yang sudah tertangkap, tapi mungkin banyak yang belum terendus KPK. Wibawa dalam tubuh mereka sudah terbang ke langit.

Bawahan Tahu Siapa Pejabat yang Cangok Uang

Masyarakat makin pintar dan tahu siapa yang bermental korup dan siapa yang suka berbohong. Mungkin ada pejabat korup di sebuah instansi yang kelihatan berwibawa. Tapi para bawahannya tahu bahwa dia cangok uang.

Pejabat seperti itu akan dicibirkan dari belakang oleh bawahannya. Dia merasa dirinya masih berwibawa, padahal sudah kehilangan wibawanya.

Batu Cincin Akiak dan Paket Wibawa dari Dukun

Dalam masyarakat kita ada kepercayaan bahwa wibawa bisa didatangkan lewat cara tertentu. Ini mengingatkan pada dukun atau tukang jual batu cincin akiak.

Majalah "Misteri" yang laris itu sering memuat iklan dukun yang menyediakan azimat pendatangan wibawa atau pengembalian wibawa yang hilang. Ada pula penjual batu cincin yang menawarkan cincin akiak gedang dengan batu mantiko warna kemilau, katanya bisa mendatangkan wibawa.

Mereka yang kariernya mandeg di kantor bisa cepat percaya rayuan dukun dan tukang batu cincin itu. Walau kini abad 21, banyak orang masih percaya hal-hal mistis.

Mereka yang saraf belakangnya sudah kena angin pencerahan tentu menjauhi para dukun dan tukang batu cincin yang menawarkan paket wibawa itu.

Wibawa Sejati Datang dari Satunya Kata dan Perbuatan

Wibawa datang ke dalam diri seseorang bukan melalui batu cincin dan azimat. Ia hadir melalui tindakan yang sesuai dengan ucapan, satunya kata dengan perbuatan, dan lewat usaha menjaga harga diri.

Wibawa yang coba dihadirkan semata-mata melalui show off limpahan uang dan harta, apalagi jika diperoleh lewat korupsi, bukanlah wibawa sebenarnya. Itu hanyalah wibawa yang diejan-ejan.

Mereka yang mengejan-ejan wibawa akan muncul dalam ribuan bentuk wajah centang-perenang di media sosial, disayat-sayat oleh netizens.

Reporter: Ronal Siregar
Sumber: semangatnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top