SUMATERA BARAT — Data terbaru Australian Bureau of Statistics (ABS) menunjukkan belanja rumah tangga pada kuartal Juni 2026 naik 0,4 persen, menyumbang 0,2 poin persentase terhadap pertumbuhan PDB. Angka itu terlihat kecil, tapi arahnya jelas: konsumen Australia sedang mengalihkan uang mereka ke kendaraan, khususnya EV dan hibrida.
ABS mencatat rekor penjualan EV dan kendaraan hibrida sepanjang periode tersebut. Pemicunya bukan tren gaya hidup, melainkan hitungan ekonomi: konsumen ingin menekan biaya operasional jangka panjang di tengah harga bahan bakar yang masih tinggi.
Efek sampingnya terlihat di data konsumsi BBM yang menurun. Beberapa pemerintah negara bagian juga menambah tekanan dengan menghadirkan layanan transportasi umum gratis, yang makin menggerus kebutuhan bahan bakar harian.
Belanja diskresioner — pengeluaran untuk kebutuhan non-pokok — tumbuh 1,4 persen. Hampir separuh dari pertumbuhan itu datang dari pembelian kendaraan. Artinya, kategori lain justru lesu.
Warga Australia masih menahan diri untuk belanja di sektor lain karena tekanan biaya hidup belum mereda. Jadi angka pertumbuhan 1,4 persen itu terlihat sehat di permukaan, tapi fondasinya rapuh.
Reserve Bank of Australia (RBA) sedang berjuang meredam inflasi inti. Belanja rumah tangga yang tumbuh 7 persen tahunan justru menambah tekanan permintaan domestik, sehingga inflasi sulit turun ke target.
Menurut laporan The Australian, pembelian EV menjadi faktor signifikan dalam kenaikan belanja konsumen. Kondisi ini mempersulit RBA untuk melonggarkan kebijakan moneter.
Konsekuensinya: suku bunga kemungkinan harus dipertahankan di level tinggi, atau bahkan dinaikkan lagi. Risiko resesi berkepanjangan pun meningkat.
Transisi ke EV di Australia membawa dua sisi. Di satu sisi, konsumen menghemat biaya operasional jangka panjang. Di sisi lain, lonjakan belanja kendaraan menambah tekanan inflasi yang sedang coba diredam RBA.
Selama harga BBM tinggi dan insentif transportasi umum berlanjut, permintaan EV diperkirakan tetap kuat. Pertanyaannya, sampai kapan RBA bisa menahan suku bunga tanpa memukul sektor lain yang sudah lemah.