SUMATERA BARAT — Kenaikan harga BBM nonsubsidi berlaku sejak 1–2 September 2026 di jaringan Pertamina Patra Niaga dan BP-AKR. Hingga akhir pekan ini, angka tersebut belum mengalami penyesuaian baru di papan harga SPBU.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah menahan harga BBM subsidi di tengah lonjakan minyak dunia. Pernyataan itu disampaikan di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (11/9/2026).
"Khususnya menyangkut dengan harga minyak dunia yang tidak menentu, tetapi pemerintah sampai dengan hari ini memutuskan untuk tetap menjaga harga minyak subsidi tidak ada kenaikan," tutur Bahlil.
Di jajaran Pertamina, Pertamax (RON 92) masih dijual Rp15.950 per liter. Dua produk di atasnya mengalami kenaikan dibanding harga Agustus 2026.
Dua BBM subsidi Pertamina masih dipatok sama seperti sebelumnya. Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
Harga minyak dunia yang menembus US$100 per barel dipicu memanasnya konflik Amerika Serikat dengan Iran. Kondisi itu biasanya menekan harga BBM nonsubsidi lebih cepat ketimbang subsidi yang diatur pemerintah.
BP-AKR menaikkan BP Ultimate dari Rp16.760 menjadi Rp19.330 per liter. BP Ultimate Diesel melonjak dari Rp21.910 ke Rp25.420 per liter sejak 1 September 2026, sedangkan BP 92 tetap Rp16.130 per liter.
Shell mengerek Shell V-Power Diesel dari Rp21.910 ke Rp25.420 per liter. Stok Shell Super, Shell V-Power, dan Shell V-Power Nitro+ belum tersedia di sejumlah SPBU.
Pantauan di SPBU Vivo Jalan Tendean, Jakarta Selatan, menunjukkan Revvo 92 belum berubah di Rp16.130 per liter. Papan harga Diesel Primus dan Revvo 95 tidak tercantum karena stok kosong.
Diesel Primus masih tercatat Rp21.910 per liter dengan keterangan harga Agustus 2026, bukan pembaruan September.
Pemerintah belum memberi sinyal kapan harga BBM subsidi akan ditinjau ulang. Keputusan menahan harga berlaku selama kondisi harga minyak dunia masih tidak menentu.