IHSG Dibuka Loyo ke 6.533, Investor Wait and See Jelang Keputusan The Fed

Penulis: Binsar Gultom  •  Senin, 14 September 2026 | 14:02:31 WIB
IHSG dibuka melemah ke level 6.533 seiring investor menanti keputusan suku bunga The Fed.

SUMATERA BARAT — Pelemahan indeks saham domestik ini sudah diprediksi sejumlah analis. Pelaku pasar menahan napas menunggu arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat yang dijadwalkan pekan ini.

Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, memaparkan skenario teknikal yang perlu dicermati investor. Jika IHSG gagal bertahan di 6.530, koreksi berpotensi berlanjut menuju 6.425 dengan support berikutnya di 6.377.

"Apabila IHSG gagal bertahan di 6.530, koreksi berpotensi berlanjut menuju 6.425, dengan support berikutnya di 6.377. Sebaliknya, apabila mampu rebound dan kembali menembus level 6.592, IHSG berpeluang menguji 6.723, sebelum menuju 6.859 sebagai resistance berikutnya," jelas Liza.

Tiga Sentimen yang Menekan Bursa Domestik

Kelesuan bursa saham domestik tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa sentimen besar dari dalam maupun luar negeri yang membuat investor lebih memilih memegang uang tunai untuk sementara waktu.

1. Bayang-Bayang FOMC dan Inflasi Amerika

Fokus utama trader global saat ini tertuju pada rapat FOMC The Fed pada 15-16 September 2026. Data terbaru menunjukkan inflasi headline AS masih bertahan di angka 3,4 persen pada Agustus 2026.

Consumer Sentiment Index dari University of Michigan anjlok ke level 47,8 di bulan September, jauh di bawah ekspektasi pasar. Penurunan utamanya dipicu kenaikan harga bensin dan ketegangan perdagangan yang meningkatkan kekhawatiran terhadap biaya hidup.

"Kondisi tersebut membuat investor tetap berhati-hati menjelang keputusan kebijakan moneter The Fed pekan ini," tambah Liza.

2. Tensi Geopolitik Timur Tengah

Konflik antara AS dan Iran sempat membuat pasar was-was karena mengancam jalur logistik energi di kawasan Teluk Persia. Sentimen ini sedikit mereda usai muncul kabar bahwa Teheran berencana duduk bersama dengan negara-negara Teluk di Oman untuk membahas keamanan Selat Hormuz.

Perkembangan tersebut membantu meredakan tekanan pada harga minyak setelah reli tajam sepanjang pekan, catat Liza.

3. Kabar Muram dari Ekonomi Domestik

Dari dalam negeri, penerimaan pajak hingga Agustus 2026 baru menyentuh Rp1.409,1 triliun atau 59,8 persen dari target APBN. Pengamat menilai target pemerintah terlalu tinggi dan ada risiko shortfall pajak hingga Rp140 triliun.

Kondisi ini berpotensi menekan arus kas dunia usaha dan menghambat aktivitas ekonomi serta penciptaan lapangan kerja, papar Liza.

Optimisme dunia usaha untuk kuartal III-2026 juga terjun ke zona pesimistis dengan Indeks Ekspektasi Makroekonomi turun ke angka 28. Pelaku usaha menyadari pertumbuhan ekonomi bakal melambat setelah momen musiman seperti Lebaran dan libur sekolah usai.

Tekanan lain datang dari depresiasi Rupiah, risiko El Nino yang mengerek harga pangan, dan terkontraksinya indeks manufaktur (PMI) Indonesia ke level 49. Kondisi tersebut meningkatkan potensi kenaikan BI-Rate secara pre-emptive untuk menjaga stabilitas Rupiah dan ekspektasi inflasi, tegas Liza.

Bursa Global Berpesta, Asia Justru Campur Aduk

Pelemahan IHSG terjadi di saat bursa negara barat justru sedang menguat. Pada penutupan Jumat (11/9), S&P 500 naik 0,86 persen ke 7.656,98, Nasdaq melompat 0,96 persen ke 26.333,04, dan Dow Jones terapresiasi 0,98 persen ke 52.573,29.

Indeks DAX Jerman naik 0,80 persen, CAC 40 Prancis plus 0,78 persen, dan FTSE 100 Inggris menguat 0,39 persen. Pagi ini, Nikkei melemah 0,85 persen, Kospi anjlok 2,21 persen, dan Hang Seng turun 0,35 persen. Shanghai dan Straits Times masih mampu bertahan di zona hijau tipis.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Binsar Gultom
Sumber: merahputih.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top