Kabut Asap Pekat di Luak Limopuluah, Tiga Daerah di Sumbar Terapkan Sekolah Daring

Penulis: Ronal Siregar  •  Selasa, 15 September 2026 | 09:16:32 WIB
Kabut asap pekat menyelimuti kawasan Luak Limopuluah, Sumatera Barat.

Tiga daerah di Sumatera Barat resmi memberlakukan pembelajaran jarak jauh (PJJ) menyusul kabut asap yang masih menyelimuti wilayah tersebut. Kota Padang, Kabupaten Dharmasraya, dan Kota Solok menjadi daerah pertama yang menerapkan sekolah daring bagi siswa PAUD hingga SMP. Kebijakan ini diambil karena kualitas udara di sejumlah daerah berada di level sangat tidak sehat hingga berbahaya.

PADANG — Kabut asap yang belum juga reda memaksa sejumlah daerah di Sumatera Barat mengalihkan kegiatan belajar mengajar ke rumah. Kota Padang, Kabupaten Dharmasraya, dan Kota Solok tercatat sebagai tiga daerah pertama yang memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau sekolah daring.

Di Kota Padang, PJJ diterapkan bagi siswa SD dan SMP. Sementara siswa PAUD dan TK diliburkan pada 9-11 September 2026. Kebijakan serupa juga berlaku di Dharmasraya dan Solok untuk jenjang PAUD hingga SMP.

Hingga kini, belum ada satu pun sekolah menengah atas yang menerapkan PJJ. Kewenangan jenjang SMA berada di Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.

Kualitas Udara di Level Berbahaya

Keputusan ini merespons hasil pemantauan Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) di Sumatera Barat. Banyak daerah memiliki kualitas udara sangat tidak sehat. Sebagian bahkan masuk kategori berbahaya.

Kondisi itu membuat aktivitas luar ruang, termasuk perjalanan anak ke sekolah, berisiko bagi kesehatan. Di Luak Limopuluah, kabut asap pagi terasa lebih pekat dibanding hari-hari sebelumnya.

Masker Tidak Selalu Konsisten Dipakai

Sebelum PJJ diberlakukan, sejumlah sekolah memilih tetap menggelar tatap muka dengan mewajibkan pemakaian masker. Pilihan itu dianggap bisa mengakomodasi dua hak dasar sekaligus: pendidikan dan kesehatan.

Namun konsistensi memakai masker masih jadi persoalan. Bukan hanya siswa, para guru juga sering abai saat kabut asap menyelimuti lingkungan sekolah.

PJJ Dinilai Setara dengan Tatap Muka

Metode PJJ sebenarnya bukan pendekatan baru. Komponen pembelajarannya sama dengan tatap muka: ada peserta didik, guru, tujuan pembelajaran, materi ajar, metode, media, sumber belajar, lingkungan, hingga evaluasi.

Yang membedakan hanya lokasi pelaksanaannya. Karena itu, sekolah daring dapat dipilih kapan pun, termasuk di luar situasi bencana.

Di jenjang pendidikan tinggi, metode ini sudah lama berjalan. Universitas Terbuka (UT) misalnya, mahasiswanya tidak perlu datang ke kampus. Cukup hadir di depan komputer atau laptop untuk mengikuti pembelajaran dari dosen.

Sejumlah program studi S2 dan S3 di dalam maupun luar negeri juga menerapkan PJJ. Kompetensi mahasiswa dibangun lewat penugasan, penelitian, dan belajar mandiri di bawah bimbingan dosen asesor tanpa harus bertemu fisik.

Hemat Energi hingga Ringankan Beban Rumah Tangga

Sekolah daring turut mendukung program hemat energi yang digagas pemerintah. Siswa dan guru tak perlu setiap hari berkendara ke sekolah. Mereka belajar dan berinteraksi dari rumah masing-masing.

Penghematan juga dirasakan di tingkat rumah tangga. Uang jajan siswa bisa ditabung atau dikembalikan kepada orang tua. Beban keuangan keluarga pun ikut berkurang.

Pada skala lebih luas, pelaksanaan PJJ dapat meringankan beban fiskal negara. Pertanyaannya kini, sampai kapan pembelajaran tatap muka dipaksakan di tengah kabut asap yang tak kunjung reda?

Reporter: Ronal Siregar
Sumber: sumbar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top