SUMATERA BARAT — Weton Selasa Kliwon punya neptu 11, hasil hitungan hari Selasa (3) dan pasaran Kliwon (8). Dalam khazanah Primbon Jawa, kombinasi ini di Wuku Prangbakat masuk kategori hari yang kurang bersahabat untuk bepergian jauh.
Kalender Jawa periode 14-20 September 2026 menyebut Selasa Kliwon secara eksplisit sebagai hari yang perlu dihindari untuk aktivitas keluar kota. Alasannya, energi weton ini dianggap kurang mendukung perjalanan panjang.
Panduan penanggalan Jawa bahkan menuliskan peringatan spesifik: hari ini "adalah hari yang tidak baik, maka disarankan jangan pergi karena jika bepergian akan terhenti di jalan lantaran ringkel jalma (mudah terserang penyakit)".
Ringkel jalma dalam kepercayaan Jawa merujuk pada kondisi tubuh yang rawan drop di perjalanan. Bukan soal sial, lebih ke kewaspadaan soal stamina dan kesehatan.
Naga Hari hari ini berada di arah Timur. Bagi pemilik weton Selasa Kliwon, pantangan bepergian mengarah ke barat daya menghadap timur laut.
Neptu 11 sendiri sering dikaitkan dengan energi yang kurang stabil untuk memulai hal-hal fundamental, termasuk perjalanan jauh. Tidak ada larangan mutlak, tapi Primbon menyarankan kehati-hatian ekstra.
Tidak semua orang bisa menunda perjalanan yang sudah direncanakan. Kalau memang harus keluar kota, tradisi Jawa menganjurkan memperbanyak doa dan memohon perlindungan sebelum melangkah.
Beberapa praktisi Primbon juga menyarankan menghindari waktu-waktu tertentu yang dianggap kurang baik. Perhitungannya sangat personal dan bergantung pada weton kelahiran masing-masing.
Kalau masih punya fleksibilitas memilih tanggal, sejumlah sumber menyebut 3, 4, 8, dan 22 September 2026 sebagai hari yang perlu dihindari untuk perjalanan jauh. Hari baik biasanya jatuh pada weton-weton tertentu yang dianggap mendukung kelancaran dan keselamatan.
Primbon Jawa bukan aturan mutlak. Ia warisan budaya yang mendorong kehati-hatian, perencanaan matang, dan rasa syukur sebelum mengambil keputusan besar.
Tidak ada bukti ilmiah yang menghubungkan neptu dengan sukses atau gagalnya sebuah perjalanan. Bagi banyak orang, berpegang pada tradisi sekadar memberi ketenangan batin.
Yang terpenting, keputusan keluar kota tetap harus didasari pertimbangan matang, bukan semata hitungan hari.