Warga Padayo Padang Siap Budidaya Maggot BSF, Telur Dihargai Rp 5.000 per Gram

Penulis: Maruli Sinaga  •  Kamis, 17 September 2026 | 21:38:01 WIB

Kawasan Padayo, Kelurahan Indarung, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, dipersiapkan menjadi sentra budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) melalui sosialisasi dan pelatihan pengelolaan sampah organik pada Selasa (15/9/2026). Program ini menyasar warga yang mayoritas petani, peternak, dan pembudidaya ikan, dengan menjanjikan efisiensi pakan ternak sekaligus produksi pupuk organik mandiri. Peluang ekonominya terbuka lebar karena telur maggot dijual sekitar Rp 5.000 per gram.

PADANG — Sosialisasi dan pelatihan pengelolaan sampah organik di Padayo menghadirkan sejumlah pemateri dari kalangan akademisi dan asosiasi budidaya maggot. Warga yang hadir berasal dari Kelompok Wanita Tani (KWT), Kelompok Usaha Bersama (KUBE), serta tokoh masyarakat setempat.

Dosen Departemen Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Andalas, Dr. Resti Rahayu, menjelaskan bahwa maggot BSF menghasilkan beragam produk turunan bernilai ekonomi tinggi. Salah satunya telur maggot.

Telur Maggot Dihargai Rp 5.000 per Gram

Resti menyebut harga telur maggot mencapai sekitar Rp 5.000 per gram. Jika dihitung per kilogram, nilainya bisa menembus Rp 5 juta.

"Selain larva segar, telur maggot juga memiliki nilai ekonomi yang cukup menjanjikan. Telur maggot dapat dijual dengan harga sekitar Rp5.000 per gram. Jika dikalkulasikan dalam jumlah satu kilogram, nilainya dapat mencapai sekitar Rp5 juta. Ini menunjukkan bahwa budidaya maggot juga memiliki peluang ekonomi," ujarnya.

Selain larva dan telur, residu budidaya maggot berupa kasgot atau kompos organik juga punya manfaat besar untuk sektor pertanian. Kasgot dihasilkan dari proses pencernaan sampah organik oleh larva maggot BSF.

"Selain membantu menekan biaya pertanian, pemanfaatan pupuk organik juga mendukung pengelolaan lahan yang lebih berkelanjutan," kata Resti.

Kasgot Naikkan Produksi Padi Hingga Dua Kali Lipat

Ketua Asosiasi Maggot Kota Padang (Agodang), Andi Ilham, memaparkan pengalaman nyata penggunaan kasgot pada lahan pertanian padi di kawasan Ngalau, Kelurahan Batu Gadang, Kecamatan Lubuk Kilangan. Hasilnya, produksi padi meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan penggunaan pupuk kimia saja.

"Produksi padi meningkat hingga dua kali lipat dibandingkan ketika hanya menggunakan pupuk kimia. Artinya, kasgot tidak hanya menjadi residu dari budidaya maggot, tetapi juga dapat memberikan manfaat langsung bagi kegiatan pertanian masyarakat. Jika program serupa dikembangkan di Padayo, anggota KWT dan petani dapat menghasilkan pupuk organik secara mandiri," ujarnya.

Agodang sendiri mendapat target dari Pemerintah Kota Padang untuk membantu menampung dan mengolah sekitar 10 persen sampah basah yang masuk ke tempat pemrosesan akhir di Kota Padang. Untuk mendukung target itu, Agodang menggandeng sejumlah hotel, restoran, dan rumah sakit di Kota Padang.

"Sampah basah dari berbagai tempat tersebut dikumpulkan setelah dipilah, kemudian dimanfaatkan sebagai bahan pakan dalam proses budidaya maggot," katanya.

Warga Padayo: Maggot Bisa Kurangi Ketergantungan Pakan Komersial

Tokoh masyarakat Padayo, Majik, mengaku mendapat pemahaman baru dari sosialisasi tersebut. Sebelumnya, warga belum mengenal budidaya BSF.

"Setelah mendapat penjelasan dari pemateri, kami menjadi tahu bahwa maggot memiliki banyak manfaat dan dapat dikembangkan menjadi peluang usaha. Kami pun menilai budidaya maggot sangat potensial diterapkan di Padayo karena mata pencarian masyarakat didominasi oleh petani, peternak, dan pembudidaya ikan," katanya.

Majik berharap pengembangan program ini segera terealisasi di lingkungannya. Menurutnya, budidaya maggot bisa mengurangi ketergantungan peternak dan pembudidaya ikan pada pakan komersial yang harganya mahal.

"Kami berharap budidaya maggot dapat segera dikembangkan di Padayo. Dengan begitu, peternak dan pembudidaya ikan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pakan komersial yang harganya mahal. Di samping itu, masyarakat juga dapat memperoleh pupuk organik sekaligus membantu mengurangi sampah di lingkungan," pungkas Majik.

Rumah Maggot Terintegrasi Jadi Target Berikutnya

Resti berharap Padayo ke depan memiliki rumah maggot yang terintegrasi dengan usaha budidaya ikan dan ternak itik. Integrasi itu dinilai akan menciptakan ekosistem usaha yang saling mendukung, karena maggot dimanfaatkan sebagai pakan sementara kasgot menyuburkan tanaman.

"Apabila program dapat berjalan dengan baik, rumah maggot tersebut dapat dikembangkan untuk menghasilkan lebih banyak produk turunan," ujarnya.

Lurah Indarung, Suharman Mizani, mengapresiasi fasilitasi yang diberikan PT Semen Padang dalam sosialisasi tersebut. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menambah pengetahuan warga, tetapi juga membuka peluang peningkatan taraf hidup masyarakat Padayo.

"Kami sangat mengapresiasi PT Semen Padang yang telah memfasilitasi sosialisasi maggot kepada masyarakat Padayo. Apalagi, kegiatan sosialisasi tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat, tetapi juga membuka peluang untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Padayo," katanya.

Lurah yang akrab disapa Zani itu mengajak warga memanfaatkan peluang budidaya maggot secara maksimal, mengingat Padayo merupakan kawasan pertanian dan peternakan.

"Potensi maggot ini sangat besar. Apalagi Padayo merupakan kawasan pertanian dan peternakan. Maggot dapat menjadi pakan ternak, sedangkan kasgotnya dimanfaatkan sebagai pupuk tanaman. Dengan demikian, budidaya maggot ini juga akan menciptakan hubungan yang saling menguntungkan antara pengelolaan sampah dan kegiatan ekonomi masyarakat," ujarnya.

Reporter: Maruli Sinaga
Sumber: sumbar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top