Pertamina EP Sulap Gas Kotor CO2 Jatibarang Jadi Energi Bersih

Penulis: Topan Lubis  •  Rabu, 23 September 2026 | 14:03:31 WIB
Fasilitas Stasiun Pengumpul Akasia Bagus (SP-ABG) Pertamina EP di Indramayu, Jawa Barat.

SUMATERA BARAT — Pertamina EP mengoperasikan Stasiun Pengumpul Akasia Bagus di Indramayu, Jawa Barat, yang mampu mengubah gas dengan kandungan CO2 dan H2S hingga 65 persen menjadi gas bersih untuk industri. Fasilitas ini disebut sebagai satu-satunya di Indonesia yang bisa menurunkan kadar CO2 dari 65 persen menjadi 5 persen.

Paragraf pembuka: Fasilitas Stasiun Pengumpul Akasia Bagus (SP-ABG) yang dikelola Pertamina EP Zona 7 Regional Jawa Bagian Barat ini menjadi penopang utama produksi migas di Lapangan Jatibarang. Dari total produksi minyak mentah sekitar 11.000 barel per hari di lapangan tersebut, SP-ABG menyumbang sekitar 2.500 barel atau setara 25–30 persen.

Mengubah Gas Terbuang Jadi Sumber Energi

Lapisan gas di Jatibarang sebenarnya menyimpan potensi besar. Masalahnya, kandungan impurities atau zat pengotornya sangat tinggi, dengan CO2 dan H2S mencapai 65 persen. Kondisi itu membuat Pertamina sebelumnya tidak bisa memanfaatkan gas tersebut sebagai sumber energi.

Gas alam yang dihasilkan dari proses ekstraksi minyak bumi di kawasan itu akhirnya harus dibakar agar tidak mencemari udara sekitar. Pembakaran tanpa pengolahan tentu membuang potensi energi yang seharusnya bisa dimanfaatkan.

Situasi berubah setelah Pertamina EP menggunakan teknologi CO2 Removal Package dengan sistem amine (MDEA), Gas Dehydration Unit (DHU) atau unit dehidrasi, dan Thermal Oxidation (TOX). Ketiga teknologi itu menurunkan kadar karbon dioksida, hidrogen sulfida, serta air pada gas sehingga kualitasnya memenuhi spesifikasi Perjanjian Jual Beli Gas (PJBG).

"Jadi di Indonesia mungkin ini plant satu-satunya ya untuk bisa menurunkan kandungan CO2, CO2 content 65% menjadi 5%," ujar Supervisor Production SP-ABG, Dedy Gradienda, di fasilitas SP-ABG, Indramayu, Selasa (22/9/2026).

Kapasitas Produksi dan Rencana Ekspansi

Saat ini SP-ABG mampu mengolah gas dengan tingkat impurities tinggi sebesar 10–11 MMSCFD (Million Standard Cubic Feet per Day) menjadi gas bersih untuk sumber energi industri sebanyak 3,3–3,5 MMSCFD. Angka itu baru sebagian dari kapasitas yang ditargetkan.

Pertamina EP berencana menaikkan kapasitas pemrosesan hingga 22 MMSCFD feed gas demi menghasilkan 8 MMSCFD gas bersih. Sejumlah tahapan teknis masih harus dituntaskan, termasuk rekomendasi fasilitas Thermal Oxidizer (TOX).

"Target itu ketika nanti dari TOX atau Thermal Oxidizer-nya sudah selesai, rekomendasinya sudah dijalankan, running TOX, nah kita akan mencoba running full capacity di 22 MMSCFD. InsyaAllah informasi yang saya dapat itu di akhir tahun atau awal tahun lah kita bisa commissioning dan start up dua dua train tadi, gitu," terang Dedy.

Dampak ke Pasokan Energi Nasional

Langkah ini bukan sekadar soal produksi. Gas bersih yang dihasilkan dari SP-ABG memasok kebutuhan energi industri, yang berarti menjaga keberlanjutan pasokan bagi sektor manufaktur dan pengguna gas lainnya di wilayah tersebut.

Selama ini gas dengan kandungan CO2 tinggi sering dianggap limbah yang harus dibakar. Teknologi yang dipakai Pertamina EP menunjukkan bahwa sumber daya tersebut masih bisa dimanfaatkan, sekaligus mengurangi emisi dari pembakaran gas mentah.

Dedy menegaskan target tahun 2026 adalah menjalankan dua plant SP-ABG sampai kapasitas penuh 22 MMSCFD. "Target di 2026, yang pasti kita akan berusaha me-running dua plant SP ABG ini sampai full capacity di 22 MMSCFD supaya target di 8 MMSCFD akhir tahun bisa achieve. Gitu target kita," ujarnya.

Penutup: Keberhasilan SP-ABG mengolah gas kotor menjadi energi bersih menjadi contoh bagaimana teknologi pengolahan bisa memperpanjang umur pemanfaatan lapangan migas yang sudah berproduksi lama. Jika target kapasitas penuh tercapai, Lapangan Jatibarang tidak hanya menopang produksi minyak, tetapi juga memperkuat pasokan gas untuk industri nasional.

Reporter: Topan Lubis
Sumber: finance.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top