Universitas Negeri Padang (UNP) mewisuda 2.629 lulusan dari jenjang S1 hingga S3 dalam upacara periode ke-145 di Auditorium UNP, Air Tawar, Padang. Rektor Krismadinata dalam pidatonya menegaskan peran kampus tidak berhenti di ruang kelas, tetapi turun langsung membantu penanganan bencana yang kerap melanda Sumatera Barat. Wisuda berlangsung tiga hari hingga Rabu (30/9).
PADANG — Sebanyak 2.629 wisudawan dan wisudawati mengikuti prosesi wisuda periode ke-145 Universitas Negeri Padang. Acara digelar di Auditorium UNP, Air Tawar, Padang, selama tiga hari hingga Rabu (30/9). Lulusan berasal dari jenjang sarjana hingga doktoral.
Rektor UNP Krismadinata memanfaatkan momen wisuda untuk menyoroti posisi kampus dalam rantai penanganan bencana di Sumatera Barat. Menurutnya, UNP hadir bukan hanya saat mitigasi, tetapi juga menangani dampak sosial yang muncul pascabencana.
"UNP hadir tidak hanya saat mitigasi bencana tapi juga dampak sosial yang terjadi pascabencana," kata Krismadinata dalam pidatonya.
Krismadinata memaparkan sejumlah langkah nyata yang sudah dijalankan kampus. Mulai dari edukasi dan riset, pemetaan daerah rawan bencana, hingga penelitian mitigasi lewat program kuliah kerja nyata (KKN).
Pada masa tanggap darurat, UNP mendirikan posko dan menerjunkan relawan, dosen, serta mahasiswa untuk membantu korban banjir dan galodo di sejumlah titik di Sumatera Barat, termasuk Aro Suko, Kabupaten Solok.
Untuk pemulihan jangka panjang, UNP menggalang bantuan dana melalui UNP Charity atau UNP Peduli Bencana bersama mitra. Kampus juga terlibat membangun kembali sekolah dasar yang rusak di Kabupaten Tanah Datar pascaerupsi Marapi tahun 2024.
Beasiswa bagi mahasiswa terdampak disalurkan bersama Bank Nagari, Bank Indonesia, dan Ikatan Alumni UNP.
Dalam pidatonya, Krismadinata mengutip data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Lebih dari 3.100 kejadian bencana tercatat di berbagai wilayah Indonesia sepanjang tahun 2025, didominasi bencana hidrometeorologi.
Ia mengingatkan Indonesia berada di kawasan ring of fire atau cincin api. Kondisi itu membuat wilayah Indonesia rawan bencana geologi dan vulkanologi meski kaya akan hasil alam.
"Perguruan tinggi berperan krusial dalam mitigasi dan rehabilitasi pascabencana, guna mencegah masalah sosial seperti kriminal, kemiskinan, dan konflik," jelas dia.
Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat yang diwakili Koordinator Kejaksaan Tinggi Sumatera Barat, Alexander Rudy, memberikan orasi ilmiah. Materi yang dibahas seputar integritas dan kepemimpinan generasi muda.
Wisuda ke-145 menutup rangkaian prosesi kelulusan UNP periode ini. Para lulusan diharapkan membawa bekal kompetensi sekaligus kepekaan sosial ke tengah masyarakat.