SUMATERA BARAT — Unknown Pleasures Pictures, label distribusi milik sutradara Jia Zhangke, resmi mengantongi hak edar film terbaru Apichatpong Weerasethakul berjudul "Jenjira's Magnificent Dream" untuk pasar China. Kesepakatan itu dikonfirmasi salah satu pendiri label, Tian Qi, yang juga tengah menegosiasikan dua judul dari Festival Film Cannes tahun ini. Langkah ini menandai babak baru distribusi film arthouse di pasar Tiongkok yang selama ini dikenal sulit ditembus.
Unknown Pleasures Pictures bukan pemain baru di segmen film seni. Label ini didirikan pada 2025 oleh Jia bersama Tian Qi, yang sebelumnya membangun Hero Films. Fokus mereka jelas: film-film internasional bernuansa arthouse, termasuk judul-judul festival yang sering luput dari perhatian distributor besar.
Sebelum meluncurkan label ini, perusahaan Tian sudah lebih dulu merilis "Memoria" karya Weerasethakul di bioskop China. Film itu meraup 360.000 dolar AS, atau sekitar sepertiga dari total pendapatan box office globalnya. Capaian tersebut menjadi modal kepercayaan diri keduanya untuk memperluas portofolio.
Sepanjang tahun ini, Unknown Pleasures bergerak agresif. Pada Januari, mereka mengambil hak edar wilayah Greater China untuk "Filipiñana" karya Rafael Manuel, judul Sundance yang diproduseri eksekutif oleh Jia dan baru saja menggelar premiere Asia di Festival Film Pingyao.
Enam bulan berselang, dua judul Eropa masuk daftar: "Minotaur" arahan Andrey Zvyagintsev dan "La Gradiva" garapan Marine Atlan. Keduanya menambah koleksi label yang memang menargetkan film-film dengan penjualan internasional terbatas.
Langkah pembuka label ini justru datang dari Italia. "There's Still Tomorrow" karya Paola Cortellesi, salah satu film terlaris Italia pada 2023, diakuisisi pada 2024 dan tayang di China pada 8 Maret, bertepatan dengan Hari Perempuan Internasional. Film itu meraup 6 juta dolar AS berkat ulasan positif yang deras.
Belakangan, empat judul Cannes menyusul: "Sentimental Value" dari Joachim Trier, "The Secret Agent" karya Kleber Mendonça Filho, "Love on Trial" arahan Fukada Koji, serta restorasi "The Gold Rush" milik Charlie Chaplin.
Tian menegaskan tidak semua akuisisi harus mendatangkan laba. Prioritasnya adalah kecepatan rilis begitu sebuah judul resmi dipegang. "Begitu kami mengakuisisi sebuah judul, kami pasti berupaya merilisnya secepat mungkin," ujarnya kepada Variety.
Visi itu berangkat dari keyakinan sederhana. "Etos pendiriannya adalah dunia ini penuh film menakjubkan, dan di antara 1,4 miliar penduduk China, film-film ini pasti menemukan penontonnya," kata Tian.
Jia sendiri menegaskan bahwa keputusan bisnis bukan alasan utama label ini berdiri. Menurutnya, ia dan Tian sepakat menjaga stabilitas keuangan perusahaan, tetapi misi utamanya tetap mendistribusikan film yang mereka sukai. "Jika kami berdiri murni dari sudut bisnis, kami tidak akan memulai usaha ini," ujar sutradara yang namanya diambil dari judul filmnya pada 2002 itu.
Jia berharap Unknown Pleasures ikut menumbuhkan pasar film arthouse di China. Strateginya adalah membangun katalog jangka panjang agar pendapatan tetap berkelanjutan. "Kami beroperasi dengan strategi katalog jangka panjang: judul-judul ini harus tetap relevan di tahun-tahun mendatang," jelasnya.
Bagi Jia, film yang layak mendapat perhatian justru sering terlewat begitu saja. Ia menyebut karya-karya semacam itu paling butuh ruang layar bioskop. "Kami tidak bisa menahan diri untuk mengeluh soal beberapa film yang dirilis online - padahal film-film itu sebenarnya milik bioskop," tuturnya.
Dengan portofolio yang terus bertambah dan negosiasi dua judul Cannes masih berjalan, Unknown Pleasures memposisikan diri sebagai penyalur utama film seni internasional di pasar China. Langkah ini sekaligus menguji seberapa besar ruang tumbuh penonton arthouse di negara dengan basis bioskop terbesar dunia tersebut.