BUKITTINGGI — Petugas Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Marapi, Ahmad Rifandi, menyatakan letusan terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 19,5 milimeter. Durasi erupsi tercatat sekitar 27 detik sejak pukul 10.00 WIB.
"Telah terjadi erupsi Gunung Marapi, Sumatera Barat, pada tanggal 1 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 19,5 mm dan durasi 27 detik," kata Rifandi dalam keterangan yang diterima, seperti dilansir detikSumut.
PGA Marapi yang berbasis di Kota Bukittinggi melaporkan semburan abu vulkanik menyertai letusan. Namun petugas tidak bisa memastikan ketinggian kolom abu.
"Tinggi kolom abu tidak teramati," tambah Rifandi.
Kondisi cuaca di sekitar puncak disebut menjadi penyebab abu tidak terpantau maksimal. Meski begitu, PGA Marapi tetap mencatat getaran erupsi melalui seismogram.
Status Gunung Marapi saat ini berada pada Level II atau Waspada. Status itu belum berubah sejak erupsi terekam.
PGA Marapi mengimbau masyarakat yang beraktivitas di sekitar Gunung Marapi tidak mendekati dan beraktivitas pada radius 3 kilometer dari kawah. Imbauan berlaku selama status Waspada dipertahankan.
Warga yang tinggal di kawasan lereng diminta mengikuti arahan petugas. Aktivitas pendakian dan kunjungan ke area kawah juga terdampak larangan tersebut.
"Jika terjadi hujan abu, masyarakat diimbau menggunakan masker guna menghindari gangguan saluran pernapasan," katanya lagi.
Hujan abu dapat membawa material halus yang berisiko bagi pernapasan, terutama anak-anak dan lansia. Warga diimbau menyiapkan masker dan menutup sumber air bersih di rumah masing-masing.
PGA Marapi belum melaporkan adanya korban atau kerusakan akibat erupsi terbaru. Pemantauan di sekitar kawah terus dilakukan menyusul status Waspada yang masih berlaku.