Komposer muda Fadil Asy'ari bersama kelompok musiknya membawakan komposisi musik kontemporer bertajuk "Jajak Limpapeh" pada Pekan Kebudayaan Daerah Saraso Fest 2026 di Taman Budaya Sumatera Barat, Padang. Karya yang mengangkat peran sentral perempuan Minang dalam melestarikan kesenian Alu Katentong itu menuai apresiasi tinggi dari para pencinta seni. Fadil lolos sebagai komposer terpilih lewat kurasi ketat lokakarya musik yang digelar sebelumnya.
PADANG — Kepala Taman Budaya Sumatera Barat M. Devid menilai komposisi "Jajak Limpapeh" dibawakan dengan apik dan mendapat sambutan hangat penonton. Menurut dia, penampilan Fadil di ajang tersebut bukan hasil instan, melainkan buah dari proses kurasi yang ketat.
"Kehadiran Fadil di ajang bergengsi ini merupakan hasil dari proses kurasi yang ketat dan konsistensi sang seniman dalam mengembangkan musik tradisi Minangkabau," kata Devid di Padang, Jumat.
Fadil merupakan salah satu komposer terpilih hasil kurasi mendalam dari lokakarya musik yang digelar beberapa waktu sebelumnya. Lokakarya itu dirancang agar peserta mampu menciptakan karya audio visual berkarakter lokal, tetapi tetap bersaing di panggung global.
Melalui lokakarya tersebut, peserta didorong memperkenalkan identitas budaya Minangkabau lewat medium seni modern. Devid menilai Fadil menunjukkan komitmen luar biasa dalam mengeksplorasi akar budaya lokal dan mengemasnya secara kontemporer.
"Fadil Asy'ari bisa tampil di ajang ini karena ia berhasil menunjukkan komitmen luar biasa dalam mengeksplorasi akar budaya lokal yang kemudian dikemas secara modern," ujarnya.
Dedikasi Fadil dalam menggali bunyi-bunyian tradisi lewat Sound Denai dinilai konsisten. Karya-karyanya pun dianggap berkarakter kuat sehingga ia dipilih sebagai komposer yang mampu menjembatani musik tradisi agar tetap relevan bagi generasi muda.
Fadil menjelaskan, komposisi "Jajak Limpapeh" lahir dari kekaguman mendalam terhadap figur perempuan di ranah Minang. Proses kreatifnya berakar dari kesenian pemukulan lesung tradisional yang legendaris.
"Karya komposisi Jajak Limpapeh ini terinspirasi langsung oleh peran sentral perempuan dalam melestarikan, mengajarkan, dan mewariskan kesenian Alu Katentong," kata Fadil.
Struktur musikal yang dibangunnya tidak sekadar mengejar estetika bunyi. Ada pesan sosial mengenai kehidupan bermasyarakat yang ingin disampaikan lewat pola ritme dan bunyi yang saling mengisi.
"Bunyi dan pola ritem yang dimainkan secara saling mengisi dalam komposisi ini mencerminkan nilai gotong royong, kebersamaan, serta ketekunan perempuan dalam memastikan kesenian Alu Katentong ini tetap hidup dari generasi ke generasi," pungkasnya.
Pekan Kebudayaan Daerah Saraso Fest 2026 menjadi ruang bagi seniman Sumatera Barat menampilkan karya berbasis tradisi. Taman Budaya Sumatera Barat berperan sebagai penyelenggara sekaligus kurator yang menyaring peserta dari lokakarya musik.
Penampilan Fadil menambah daftar komposer muda yang mengangkat bunyi tradisi Minangkabau ke panggung kontemporer. Karya "Jajak Limpapeh" menunjukkan bahwa kesenian Alu Katentong masih bisa berbicara kepada penonton masa kini.