BRI Edukasi Finansial di BIK 2026, Soroti Kerugian Scam Rp 12 Triliun

Penulis: Topan Lubis  •  Selasa, 06 Oktober 2026 | 14:04:01 WIB
Petugas memberikan edukasi finansial kepada peserta dalam kegiatan Katadata Financial Healing x Wayang Kuliterasi di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Jakarta, Sabtu (3/10).

SUMATERA BARAT — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk mendorong kebiasaan finansial sehat melalui edukasi dalam Bulan Inklusi Keuangan 2026, seiring kerugian akibat scam digital yang mencapai Rp 12 triliun dalam dua tahun terakhir. Kegiatan bertajuk Katadata Financial Healing x Wayang Kuliterasi ini digelar di Taman Literasi Martha Christina Tiahahu, Jakarta, Sabtu (3/10). Langkah tersebut menyasar masyarakat agar tidak hanya mudah mengakses layanan keuangan, tetapi juga mampu memahami risiko di baliknya.

Paragraf pembuka: Kegiatan itu menjadi bagian dari rangkaian Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2026, agenda nasional tahunan yang digelar setiap Oktober oleh Otoritas Jasa Keuangan bersama kementerian, lembaga, dan pelaku usaha jasa keuangan. Bagi BRI, perluasan akses keuangan harus berjalan seiring dengan peningkatan pemahaman masyarakat terhadap produk dan layanan yang mereka gunakan.

Kerugian Scam Capai Rp 12 Triliun

Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen sekaligus Anggota Dewan Komisioner OJK Dicky Kartikoyono menyoroti besarnya risiko yang mengintai konsumen di ekosistem keuangan digital. Menurut data OJK, kerugian akibat scam di ruang digital mencapai sekitar Rp 12 triliun dalam dua tahun, meski angka itu dinilai masih under reported.

Dicky menilai perlindungan konsumen tidak cukup hanya menangani kerugian setelah kejadian. Pendekatan yang tengah didorong OJK adalah pengembangan anti-scam apps yang terhubung dengan ekosistem keuangan digital, sehingga konsumen bisa mengecek legalitas perusahaan maupun validitas rekening tujuan sebelum bertransaksi.

"Semakin kita terdorong untuk melakukan apa yang diminta oleh sebuah pesan, semakin harus berhati-hati. Semakin kita terdorong untuk klik, semakin besar potensinya itu adalah scam," ujar Dicky dalam pidato pembukanya.

Ia juga menegaskan pentingnya kebiasaan verifikasi. "Check before payment. Check before transfer. Ini nanti kita campaign bareng-bareng," katanya.

BRImo Dipakai 49,7 Juta Pengguna

Dorongan literasi finansial itu berangkat dari realitas digitalisasi layanan keuangan yang bergerak cepat. Per Juni 2026, aplikasi BRImo telah digunakan oleh 49,7 juta pengguna dengan 3,32 miliar transaksi finansial dan volume transaksi menembus Rp 4.166 triliun.

Angka tersebut menunjukkan akses masyarakat terhadap layanan keuangan digital sudah sangat luas. Namun, BRI menilai kemudahan itu menuntut pemahaman yang setara soal manfaat, risiko, dan cara penggunaan produk keuangan secara bijak dan bertanggung jawab.

Masyarakat perlu mengenali berbagai risiko dalam aktivitas finansial digital, mulai dari penipuan dan penyalahgunaan data pribadi hingga aktivitas keuangan ilegal seperti judi online. BRI ingin masyarakat tidak hanya semakin mudah menggunakan layanan keuangan, tetapi juga mampu mengambil keputusan finansial dengan mempertimbangkan kebutuhan, kemampuan, keamanan, dan tujuan keuangan masing-masing.

Pesan Judi Online Lewat Pertunjukan Wayang

Pesan soal risiko judi online disampaikan melalui pertunjukan "Pandawa Kalah Judol" bersama Dalang Ki Amar Pradopo. Lewat cerita pewayangan, isu keuangan ilegal dikemas dalam format budaya yang lebih dekat dengan masyarakat.

Editor in Chief Katadata Yura Syahrul menilai momentum BIK menjadi kesempatan untuk terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan. Menurutnya, pemahaman terhadap berbagai instrumen keuangan penting, terutama bagi generasi muda, agar masyarakat dapat mengakses dan memanfaatkannya secara optimal.

"Dengan memahami dan meningkatkan kemampuan berkaitan dengan keuangan, termasuk bagaimana menggunakan dan memanfaatkan instrumen keuangan, kita akan lebih dapat mengelola keuangan, tidak hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk masa depan," ujar Yura.

Kebiasaan Finansial Jadi Kunci

Bagi BRI, edukasi tidak berhenti pada kemampuan mengenali risiko. Perusahaan mendorong terbentuknya kebiasaan finansial yang sehat, mulai dari kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan, menjaga keamanan informasi keuangan, hingga mempertimbangkan konsekuensi sebelum bertransaksi.

Pendekatan itu sejalan dengan posisi BRI sebagai bank dengan basis nasabah terbesar di Indonesia. Semakin luas layanan digital yang dipakai masyarakat, semakin besar pula tanggung jawab untuk memastikan mereka tidak hanya melek teknologi, tetapi juga cermat dalam mengambil keputusan finansial.

Penutup: Kerugian Rp 12 triliun akibat scam dalam dua tahun menjadi pengingat bahwa inklusi keuangan tanpa literasi yang memadai bisa berbalik menjadi celah kerugian bagi masyarakat. Bagi BRI, mendorong kebiasaan finansial sehat di tengah 49,7 juta pengguna BRImo bukan sekadar agenda edukasi tahunan, melainkan bagian dari upaya menjaga kepercayaan nasabah di ekosistem keuangan digital yang terus berkembang.

Reporter: Topan Lubis
Sumber: katadata.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top