Kementerian UMKM RI menyiapkan 190 pelaku UMKM Sumatera Barat yang terdampak bencana hidrometeorologi akhir 2025 untuk mengikuti Business Matching pada 4-5 November 2026. Program pemulihan ini menyasar pelaku usaha dari Padang Pariaman, Kota Pariaman, Pasaman, dan Pasaman Barat yang produksi serta akses pasarnya terganggu bencana. Pembekalan tahap awal digelar di Parik Malintang, Kabupaten Padang Pariaman.
PADANG PARIAMAN — Kepala Bidang Rantai Pasok Usaha Menengah Kementerian UMKM RI Astri Harny Tresnasari menyampaikan pembekalan itu menjadi pintu masuk bagi pelaku usaha sebelum dipertemukan dengan calon pembeli. Tahap kurasi akan menentukan siapa yang layak melaju ke Business Matching.
Peserta pembekalan terdiri dari 85 pelaku UMKM Padang Pariaman dan 15 pelaku UMKM Kota Pariaman yang hadir langsung di lokasi. Sebanyak 90 peserta lain dari Kabupaten Pasaman dan Pasaman Barat mengikuti kegiatan secara daring.
"Kami berharap melalui program ini UMKM tidak hanya pulih, tetapi juga mampu memperluas jaringan usaha, meningkatkan omzet, dan memperoleh akses pasar yang lebih luas dan berkelanjutan," kata Astri di Parik Malintang, Kabupaten Padang Pariaman, Selasa.
Seleksi tahap kurasi mempertimbangkan sejumlah aspek teknis pelaku usaha. Potensi produk, kapasitas produksi, kualitas dan konsistensi, kesiapan legalitas, serta kemampuan memenuhi kebutuhan pasar menjadi penilaian utama.
Komitmen menjaga kualitas, kuantitas, dan kontinuitas produk juga masuk dalam pertimbangan. Pelaku UMKM yang lolos kurasi akan dipertemukan langsung dengan calon pembeli, mitra usaha, BUMN, asosiasi, dan pelaku usaha potensial lainnya.
Bupati Padang Pariaman John Kenedy Azis menyebut kegiatan ini sebagai bagian dari percepatan pemulihan ekonomi masyarakat. Langkah tersebut menindaklanjuti Instruksi Presiden Nomor 18 Tahun 2025 tentang Percepatan Penanganan Darurat, Rehabilitasi, dan Rekonstruksi Pascabencana Alam di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
"Bencana tidak hanya merusak sarana dan prasarana usaha, tetapi juga mengganggu produksi, rantai pasok, distribusi, akses pasar, hingga hubungan usaha dengan konsumen. Karena itu, pemulihan UMKM harus diarahkan agar pelaku usaha mampu bangkit, berkembang, memperluas pasar, dan naik kelas," kata John Kenedy.
Ia mendorong peserta memanfaatkan kesempatan ini dengan meningkatkan kualitas produk, memperkuat legalitas usaha, dan membangun kapasitas produksi. Pemerintah daerah, menurutnya, akan terus berperan sebagai fasilitator.
John Kenedy menyinggung capaian produk unggulan Padang Pariaman di ajang KriyaNusa 2026 di Jakarta. Sulam Kapalo Samek dan Kampia Siriah meraih penghargaan pada ajang tersebut.
"Prestasi itu membuktikan bahwa produk UMKM Padang Pariaman mampu bersaing di tingkat nasional. Saya berharap ini menjadi penyemangat bagi seluruh pelaku usaha bahwa produk lokal kita memiliki peluang besar untuk tampil dan dikenal lebih luas," katanya.
Business Matching pada 4-5 November 2026 menjadi tahap akhir rangkaian program. Pelaku UMKM yang lolos kurasi akan bernegosiasi langsung dengan calon mitra bisnis dan offtaker potensial.