SUMATERA BARAT — PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) menghabiskan USD3.699.713 atau sekitar Rp66,17 miliar untuk eksplorasi batu bara di area West Usai-Melibu hingga kuartal III-2026. Biaya itu dikeluarkan anak usaha ADRO, PT Lahai Coal, yang menuntaskan 248 titik pengeboran. Hasil eksplorasi ini menjadi penentu seberapa besar cadangan baru yang bisa dibuka ADRO di wilayah konsesi Kalimantan.
Biaya yang dikeluarkan mencapai USD3.699.713 atau setara Rp66,17 miliar dengan asumsi kurs Rp17.887 per dolar AS. Pekerjaan di lapangan melibatkan Maruwai Coal, PT Duta Borneo Mining (DBM), dan PT Indonesia Carbon Energy (ICE).
Dua metode dipakai Lahai Coal untuk memetakan potensi batu bara di West Usai. Pengeboran open hole dipakai memperoleh gambaran umum struktur lapisan, sementara coring mengambil sampel batuan utuh untuk dianalisis lebih rinci.
Kombinasi keduanya penting. Data open hole memberi sebaran lapisan secara cepat, sedangkan coring memastikan kualitas dan ketebalan seam batu bara. Dari situ perusahaan bisa menghitung apakah cadangan baru layak masuk hitungan sumber daya.
ADRO menyatakan pengeboran masih akan dilanjutkan untuk mendapatkan informasi lebih detail mengenai potensi penambahan sumber daya batu bara di wilayah West Usai.
Bagi investor, hasil eksplorasi menentukan umur tambang ADRO ke depan. Penambahan sumber daya berarti cadangan perusahaan tidak cepat menyusut, terutama saat harga batu bara global bergerak naik-turun.
Bagi daerah sekitar konsesi, aktivitas eksplorasi membuka peluang kerja dan belanja jasa pengeboran. Tiga kontraktor yang terlibat—Maruwai Coal, DBM, dan ICE—bergerak di sektor jasa pertambangan yang menyerap tenaga kerja lokal.
Kendati begitu, eksplorasi belum tentu berujung pada produksi. Temuan lapangan masih harus melewati tahap studi kelayakan, hitungan ekonomi, dan persetujuan rencana kerja anggaran biaya sebelum bisa ditambang.
Langkah Lahai Coal mencerminkan strategi perusahaan menjaga pipeline cadangan di tengah ketidakpastian permintaan batu bara termal dari pasar ekspor. China dan India masih jadi pembeli utama, tapi kebijakan transisi energi menekan proyeksi jangka panjang.
ADRO selama ini dikenal sebagai salah satu produsen batu bara terbesar Indonesia melalui Adaro Energy. Eksplorasi di West Usai-Melibu menjadi salah satu upaya memperkuat basis sumber daya di Kalimantan, wilayah yang sudah lama jadi lumbung produksi perseroan.
Belum ada angka pasti berapa ton cadangan yang bakal terbukti dari 248 titik pengeboran ini. Yang jelas, biaya Rp66,17 miliar sudah keluar, dan perusahaan memilih melanjutkan pengeboran ketimbang berhenti di tengah jalan.