SUMATERA BARAT — United Talent Agency (UTA) dan Gold House resmi menjalin kemitraan strategis yang dimulai di Busan International Film Festival serta Seoul bulan ini. Langkah ini menandai ekspansi formal pertama Gold House ke Korea sekaligus upaya menghubungkan kreator dan investor Asia dengan industri Hollywood. Rangkaian acara pembuka digelar lewat UTA x Gold House x Variety Industry Night di Park Hyatt.
Kemitraan UTA dan Gold House menyasar pasar Korea Selatan sebagai pintu masuk utama. Keduanya akan menggelar panel bertajuk "Hollywood & the Asian Diaspora" di Asian Contents & Film Market, lalu melanjutkan rangkaian acara ke Seoul untuk sebuah pesta speakeasy bagi para kreator, pendana, dan pendiri lintas budaya.
Selama ini jejak formal Gold House di Asia terbatas pada Singapura dan Taiwan. Christine Yi, Executive VP sekaligus President Gold House Studios, memiliki warisan Korea, begitu pula Daniel Suh yang memimpin dana ventura organisasi tersebut.
Keduanya melakukan perjalanan eksplorasi ke Korea sekitar setahun lalu untuk bertemu pelaku industri lokal dan memetakan peran yang bisa dimainkan Gold House.
"Yang paling banyak kami dengar adalah, lakukan hal khas Gold House di sini. Kamu tidak perlu menemukan ulang rodanya," ujar Yi.
David Park, senior partner sekaligus agen di UTA, menyebut agensinya telah beroperasi di Asia, khususnya Korea dan Jepang, selama beberapa tahun terakhir. Menurutnya, kehadiran Gold House mempercepat langkah tersebut.
"Menambahkan Gold House memungkinkan kami naik level, terus terang saja," kata Park.
Yi menilai momen kemitraan ini sebenarnya sudah terlambat. Ia merujuk pada investasi Gold House di sejumlah startup Korea dan banyaknya investor organisasi itu yang berbasis di negara tersebut.
"Saya tidak tahu apakah 2026 adalah momen yang tepat, jujur saja. Momen yang tepat seharusnya sudah terjadi di masa lalu, jadi saya katakan kami sebenarnya sudah terlambat," ujar Yi.
Kedua pihak menekankan keaslian sebagai kriteria utama dalam memilih talenta dan kekayaan intelektual Asia. Yi menyebut spesifisitas sebagai kunci keberhasilan sebuah karya.
"Penonton bisa tahu kapan sesuatu telah diencerkan demi selera global, dan itu bukan yang mereka minta," katanya.
Proyek yang digarap tidak harus berbahasa Inggris, tetapi wajib mampu terhubung dengan penonton berbahasa Inggris yang menjadi basis audiens Gold House. Rekam jejak perusahaan itu juga banyak berpihak pada karya fitur pertama, tahap ketika sineas butuh pihak yang berani bertaruh pada mereka.
Yi tengah mengincar proyek yang dipimpin talenta Korea. Ia menolak menyebut nama, namun mengungkap seorang penyanyi dari salah satu grup K-pop papan atas telah mendekati Gold House untuk membuat film.
"Dia bisa menghubungi siapa pun. Tapi cara timnya mendekati kami seolah berkata, 'Kalian mungkin bukan orang yang tepat, tapi kami percaya kalian tahu siapa yang tepat jika bukan kalian, dan membantu kami menavigasi pasar AS,'" ujar Yi.
Park menyoroti "Parasite" sebagai contoh keaslian yang berhasil menembus pasar Prancis, serta "KPop Demon Hunters" garapan kliennya, Maggie Kang. Menurut Park, Kang sempat menyesal tidak menambahkan lebih banyak elemen Korea ke dalam lirik lagu atau lokasi spesifik dalam film tersebut.
Park juga berharap Korea mulai menggarap genre horor komedi. Menurutnya, komedi sulit melintasi batas budaya, tetapi bila dilebur dengan horor secara mendalam, peluangnya besar.
Salah satu celah terbesar dalam jalur Asia-Hollywood, menurut Park, adalah minimnya produser lintas negara yang berbasis di Asia sekaligus punya relasi dengan pembeli di Los Angeles. Di luar Netflix dan Disney yang punya tim lokal, sebagian besar pembeli masih mengandalkan kantor pusat AS untuk menilai konten lokal berbahasa asing.
"Kalau dipaksa, saya mungkin bisa menghitung orang-orang itu dengan satu tangan," kata Park.
Bagi Yi, celah lain adalah permodalan. Ia ingin melihat apakah investor swasta berbasis di Asia bersedia membiayai film independen AS, kelas aset yang menurutnya masih diperlakukan seperti filantropi oleh banyak individu di industri film indie AS. Yi juga tengah mencari mitra produksi unscripted Korea.
Ke depan, Yi ingin membangun program pengembangan talenta lintas negara, entah lewat skema pertukaran, program shadowing, atau akselerator. Park menyatakan dukungannya, seraya menyebut sederet sineas Korea seperti Bong Joon Ho sebagai bukti kapasitas talenta Asia di panggung global.
Belum ada program formal berkelanjutan yang disepakati kedua pihak. Gold House baru meluncurkan Gold House Studios, unit produksi internalnya, tahun ini, dan Yi berencana memanfaatkan kunjungan ke Korea untuk bertemu kreator yang ingin diajak bekerja sama.
"Kemitraan ini bagi kami benar-benar soal membangun jaringan dan ekosistem," ujar Yi.
Langkah UTA dan Gold House menambah daftar panjang upaya industri hiburan global merangkul pasar Asia, terutama Korea, yang dalam beberapa tahun terakhir membuktikan daya tariknya lewat film, serial, dan musik di kancah internasional.