Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat kembali menggelar program Siaga Bencana Berbasis Masyarakat (SIBAT) di Jorong Rantau Panjang, Kecamatan Sasak Ranah Pasisie. Peluncuran program disertai penanaman pohon kelapa genjah sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat dan kepedulian lingkungan. Kegiatan ini menyasar warga yang tinggal di kawasan rawan banjir.
SIMPANG EMPAT — Kepala Dinas Lingkungan Hidup Pasaman Barat, Natran Hanri, menyatakan bahwa pembentukan kelompok kesiapsiagaan tidak cukup berdiri sendiri. Menurutnya, program siaga bencana hanya efektif jika ditopang kesadaran dan keterlibatan aktif warga setempat.
Pernyataan itu disampaikan Natran di Simpang Empat saat membuka rangkaian kegiatan SIBAT di Jorong Rantau Panjang. Penanaman kelapa genjah dipilih sebagai simbol kepedulian lingkungan sekaligus bekal ekonomi jangka panjang bagi warga.
Natran menegaskan bahwa tanpa kesadaran kolektif, program kesiapsiagaan berisiko berhenti di tataran seremonial. Ia mendorong warga membangun komunikasi, memetakan persoalan di lingkungan sekitar, dan mencari solusi bersama.
"Program siaga bencana harus diiringi dengan kesadaran masyarakat. Tanpa kesadaran tersebut, program yang dilaksanakan tidak akan berjalan maksimal. Karena itu, kita berharap melalui program ini kesadaran masyarakat semakin meningkat, terutama dalam bentuk kepedulian dan gotong royong," ujarnya.
Selain kesadaran individu, Natran menyoroti pentingnya sinergi antara kelompok SIBAT, pemerintah nagari, dan unsur masyarakat lain. Penanggulangan bencana, katanya, menuntut kerja sama sesuai peran masing-masing pihak, bukan langkah yang berjalan sendiri-sendiri.
Perwakilan PMI Pasaman Barat, Sukarman, mengungkap bahwa SIBAT pernah dijalankan di Rantau Panjang pada periode 2011–2014. Kini program serupa digalakkan kembali untuk memperkuat kapasitas warga dalam menghadapi potensi bencana.
Sukarman berharap kelompok SIBAT tetap aktif dan berkelanjutan, bukan hanya hidup saat kegiatan berlangsung. Warga, menurutnya, perlu dibekali pengetahuan untuk mengenali risiko, mempersiapkan diri, dan mengambil tindakan awal saat bencana terjadi.
Dengan kesiapsiagaan yang memadai, warga diharapkan mampu merespons situasi darurat secara terkoordinasi. Ketergantungan penuh pada bantuan dari luar menjadi hal yang ingin dikurangi melalui program ini.
Dewan Kehormatan PMI Pasaman Barat yang juga anggota DPRD Pasaman Barat, Adriwilza, menyoroti kekhawatiran warga Rantau Panjang terhadap ancaman banjir, terutama saat hujan turun. Kondisi lingkungan yang tampak aman sehari-hari, katanya, tidak boleh membuat masyarakat lengah.
Adriwilza menekankan bahwa upaya pencegahan dan kesiapsiagaan harus dibangun sebelum keadaan darurat terjadi. Ia berharap program SIBAT memperkuat pemahaman warga soal risiko bencana, mendorong kepedulian lingkungan, dan menghidupkan kembali semangat gotong royong.
Ia juga mengapresiasi penanaman pohon kelapa genjah yang dinilai bakal memberi manfaat ekonomi bagi warga setelah tanaman tumbuh dan berbuah. Program SIBAT di Rantau Panjang kini menjadi bagian dari upaya penguatan kapasitas masyarakat menghadapi potensi banjir di wilayah tersebut.