SUMATERA BARAT — BMKG meresmikan pengoperasian HF Radar Array di Ujong Batee, Kabupaten Aceh Besar, untuk memantau dinamika arus permukaan laut hingga jangkauan 150 kilometer. Perangkat ini melengkapi radar serupa di Lam Teungoh dan menjadi bagian dari jaringan 10 titik kerja sama Indonesia-Prancis. Kehadirannya memperkuat peringatan dini tsunami serta keselamatan pelayaran dan aktivitas nelayan di perairan pantai utara Aceh.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyatakan pemasangan HF Radar Array di Ujong Batee melengkapi perangkat serupa yang telah beroperasi di Lam Teungoh, Kabupaten Aceh Besar. Kombinasi dua lokasi strategis itu memungkinkan BMKG memantau dinamika arus permukaan, gelombang, hingga arah angin di perairan pantai utara Aceh secara lebih akurat dan terintegrasi.
HF Radar Array di Ujong Batee mampu menyediakan informasi arus permukaan laut secara berkelanjutan hingga radius 150 kilometer. Data itu dipakai untuk memantau perubahan kondisi laut, termasuk sebagai salah satu sumber pendukung sistem deteksi dini tsunami.
Informasi yang sama juga dimanfaatkan untuk meningkatkan keselamatan pelayaran dan mendukung aktivitas masyarakat pesisir, khususnya nelayan. Radar ini terhubung dengan pusat pengolahan data BMKG di Jakarta.
Operasional sistem observasi di Ujong Batee mendapat backup penuh dari pusat data BMKG di Bali yang dibangun dengan standar bangunan tahan gempa. Dukungan infrastruktur itu dirancang menjaga kesinambungan operasional radar.
Fasilitas di Ujong Batee merupakan bagian dari jaringan 10 titik lokasi HF Radar hasil kerja sama Indonesia-Prancis. Dengan beroperasinya alat ini, Aceh kini didukung dua teknologi radar utama BMKG, yakni Radar Cuaca C-Band dan HF Radar Array.
Aceh tercatat sangat rentan terhadap bencana hidrometeorologi akibat aktivitas seismik dan dinamika atmosfer. Tsunami 2004 serta Siklon Tropis Senyar menjadi rujukan historis yang mendasari penguatan sistem observasi di wilayah ini.
BMKG menempatkan HF Radar Array sebagai instrumen untuk menyampaikan informasi dan peringatan dini yang cepat, akurat, serta berkualitas demi meminimalisir dampak bencana bagi masyarakat pesisir.
Wakil Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Fabrice Fize, menyebut peresmian HF Radar Array sebagai wujud nyata penguatan kerja sama bilateral kedua negara dalam teknologi observasi dan ketahanan masyarakat terhadap risiko bencana.
"Kemitraan jangka panjang antara AFD dan BMKG mencerminkan semakin eratnya hubungan antara Prancis dan Indonesia, menyusul peningkatan hubungan bilateral menjadi Kemitraan Strategis Komprehensif oleh Presiden Emmanuel Macron dan Presiden Prabowo Subianto di Paris pada 28 Mei 2026," kata Fabrice Fize.
Country Director AFD untuk Indonesia, Sandrine Boucher, menegaskan komitmen lembaganya mendukung mitigasi bencana dan perlindungan masyarakat pesisir Aceh melalui kerja sama teknologi radar maritim bersama BMKG. Ia optimistis dukungan terhadap penguatan ketahanan iklim dan keselamatan masyarakat pesisir Indonesia dapat diperluas pada tahun-tahun mendatang.
Selain membangun infrastruktur observasi, BMKG meningkatkan kapasitas masyarakat melalui program Sekolah Lapang. Program itu mencakup Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) untuk pemahaman informasi cuaca maritim, Sekolah Lapang Iklim (SLI) untuk pengambilan keputusan di sektor pertanian, serta Sekolah Lapang Geofisika (SLG) untuk kesiapsiagaan terhadap gempa bumi dan tsunami.
Di Provinsi Aceh, BMKG menyelenggarakan tiga Sekolah Lapang secara terpadu guna memperluas pemahaman masyarakat soal pemanfaatan informasi cuaca, iklim, dan mitigasi bencana.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Aceh, Robby Irza, yang mewakili Wakil Gubernur Aceh, menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi maritim ini mengingat kuatnya keterikatan masyarakat Aceh dengan laut.
Dengan beroperasinya HF Radar Array di Ujong Batee, BMKG menargetkan peningkatan efisiensi aktivitas nelayan, keselamatan pelayaran, dan mitigasi bencana hidrometeorologi maritim di kawasan pesisir Aceh.