Shin Tae-yong Minta Persija Tegur Keras Fans Anarkis Usai Insiden Bus Persib U-18

Penulis: Topan Lubis  •  Kamis, 15 Oktober 2026 | 21:51:02 WIB
Pelatih Persija Jakarta Shin Tae-yong memimpin sesi latihan di Bojongsari, Depok, Kamis (15/10).

SUMATERA BARAT — Pelatih Persija Jakarta Shin Tae-yong meminta klub memberikan sanksi tegas kepada suporter yang melakukan aksi anarkis terhadap bus tim Elite Pro Academy (EPA) Persib U-18 di rest area. Insiden penjarahan koper dan pelemparan bus itu berpotensi membuat Persija dihukum Komite Disiplin PSSI.

Shin Tae-yong menyampaikan permintaan itu di sela-sela sesi latihan Persija di Bojongsari, Depok, Kamis (15/10). Insiden yang menimpa rombongan Elite Pro Academy (EPA) Persib U-18 terjadi pada Minggu (11/10/2026), saat bus yang mengangkut tim tersebut terkena lemparan hingga koper milik anggota tim dijarah.

Pelatih asal Korea Selatan itu menilai kejadian tersebut tidak hanya mencoreng nama klub, tetapi juga berpotensi menyeret Persija ke ranah sanksi. Baginya, tindakan anarkis sama sekali tidak bisa ditoleransi dalam sepak bola Indonesia.

Shin Tae-yong Desak Sanksi Tegas untuk Pelaku

Shin tidak hanya meminta klub bersikap tegas terhadap suporter yang terlibat. Ia juga mendorong aparat penegak hukum untuk menindak siapa pun yang terbukti melakukan aksi kekerasan tersebut.

"Menurut saya, kejadian seperti itu sama sekali tidak boleh terjadi. Jika memang terjadi, pihak klub harus memberikan teguran keras kepada suporter," kata Shin.

"Namun, aparat penegak hukum juga harus menindak tegas orang-orang yang terlibat. Hal seperti ini tidak boleh terulang kembali," sambungnya.

Permintaan itu muncul di tengah sorotan terhadap keamanan suporter dan tim tamu di kompetisi nasional. Insiden terhadap bus EPA Persib U-18 menjadi salah satu kasus yang mendapat perhatian luas karena melibatkan tim usia muda.

Komdis PSSI Sebut Insiden Murni Kriminal

Komite Disiplin (Komdis) PSSI sudah angkat bicara soal peristiwa ini. Menurut Komdis, kejadian tersebut murni peristiwa kriminal dan penanganannya diserahkan kepada pihak berwenang.

Pernyataan itu menjadi penting karena menentukan apakah Persija bisa dijatuhi sanksi atas insiden yang terjadi di luar stadion. Shin sendiri menegaskan bahwa tidak semua kejadian bisa dikendalikan oleh klub.

"Tentu, klub juga memiliki tanggung jawab. Namun, ada hal-hal yang berada di luar kendali klub. Bagaimana mungkin pihak klub bisa terus mengikuti setiap orang ke mana pun mereka pergi untuk mencegah semua kejadian seperti itu," tuturnya.

Sanksi Pengurangan Poin Dinilai Tak Masuk Akal

Shin secara khusus menyinggung wacana sanksi berat yang bisa menimpa Persija, termasuk pengurangan poin. Ia menilai hal itu tidak proporsional karena insiden terjadi di rest area, bukan di area pertandingan.

"Misalnya, insiden terjadi di rest area. Klub tentu tidak mungkin mengawasi semua orang setiap saat. Karena itu, menurut saya, tidak masuk akal jika seluruh tanggung jawab dibebankan kepada klub, termasuk sampai pada pengurangan poin," ucapnya.

Pernyataan Shin menambah daftar suara yang mendesak evaluasi penanganan kasus kekerasan antar suporter. Di sisi lain, Persija masih menunggu keputusan resmi Komdis PSSI soal kemungkinan sanksi atas insiden tersebut.

Reporter: Topan Lubis
Sumber: sport.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top