Kabut Asap Ganggu Pariwisata Malaysia, Turis Batalkan Perjalanan

Penulis: Bastian Sihombing  •  Rabu, 21 Oktober 2026 | 11:35:02 WIB
Kabut asap menyelimuti Kuala Lumpur dan mengganggu kunjungan wisatawan ke sejumlah ikon kota.

SUMATERA BARAT — Kabut asap kiriman dari Indonesia menyelimuti Malaysia dan mulai mengganggu sektor pariwisata negara itu. Operator tur melaporkan penurunan pemesanan hingga pembatalan perjalanan untuk November karena kualitas udara memburuk. Kondisi ini menjadi tantangan bagi Malaysia yang menargetkan 47 juta kunjungan wisatawan pada 2026.

Presiden Malaysian Inbound Tourism Association, Mint Leong, mengatakan operator tur menerima pembatalan untuk perjalanan November dan mencatat penurunan pemesanan rombongan. Agen perjalanan luar negeri juga meminta informasi terbaru mengenai kualitas udara di Malaysia sebelum mengirim klien.

Pada Selasa lalu, Kuala Lumpur, Singapura, dan Jakarta masuk daftar 10 kota besar dengan polusi udara tertinggi di dunia berdasarkan pemantauan IQAir. Kabut asap juga memaksa sejumlah sekolah di Malaysia ditutup.

Wisatawan Kecewa, Foto Ikon Kota Tertutup Asap

Cathy Hamilton, wisatawan asal Sydney, Australia, mengaku kecewa saat mengunjungi Menara Kembar Petronas dan Merdeka 118. Kedua ikon Kuala Lumpur itu tertutup kabut asap sehingga hasil fotonya tidak maksimal.

"Saya mencoba mengambil foto Menara Kembar, Merdeka 118, dan pemandangan lainnya. Namun, hasilnya tidak bagus karena semuanya tertutup kabut asap," kata Hamilton, seperti dilansir The Straits Times, Rabu (21/10/2026).

Hamilton juga kesulitan bernapas akibat asap dari kebakaran hutan di Indonesia yang menyebar ke kawasan Asia Tenggara. Ia mengaku mungkin membatalkan perjalanan jika bukan karena kedua putrinya mengikuti Kejuaraan Cheerleading Asia pada akhir pekan.

Kerugian Sektor Pariwisata Mulai Terasa

Leong memperingatkan kabut asap dapat menyebabkan kerugian besar bagi industri pariwisata Malaysia. "Kerugian pendapatan bisa mencapai jutaan ringgit," ujarnya.

Angka itu bukan tanpa dasar. Pada 2025, wisatawan mancanegara menghabiskan 124,8 miliar ringgit (Rp 549 triliun) di Malaysia, lebih tinggi dibandingkan pengeluaran wisatawan domestik sebesar 112,1 miliar ringgit (Rp 493 triliun).

Di tingkat pedagang, dampaknya sudah terasa. Wong Mei, pedagang tas di Chinatown Kuala Lumpur, menuturkan penjualannya menurun meski kawasan itu masih didatangi wisatawan yang berburu barang murah pada Senin.

"Dalam dua minggu terakhir, lebih sedikit orang yang datang," kata Wong.

Ada Turis yang Tetap Melanjutkan Perjalanan

Wisatawan asal Inggris, James Wheatley, memilih tetap menjalani liburannya. Ia tiba di Malaysia sehari sebelum diwawancarai dan berencana tinggal hingga 27 Oktober.

"Kabut asapnya tidak terlalu buruk dan kami menyesuaikan diri dengan kondisi ini. Kalau kami tahu sebelumnya, kami akan menunda perjalanan tapi apa boleh buat sekarang kami sudah berada di sini," jelas Wheatley.

Target Visit Malaysia 2026 Terancam

Kondisi udara menjadi tantangan bagi Malaysia yang menargetkan 47 juta kunjungan wisatawan pada 2026 melalui kampanye Visit Malaysia 2026. Tourism Malaysia mencatat negara itu menerima 28,8 juta kunjungan wisatawan mancanegara selama Januari-Agustus 2026.

Bagi traveler Indonesia yang berencana ke Malaysia dalam waktu dekat, pantau kualitas udara harian lewat platform pemantauan seperti IQAir sebelum berangkat. Wisatawan dengan gangguan pernapasan sebaiknya menyiapkan masker dan mempertimbangkan ulang jadwal kunjungan ke area terbuka.

Reporter: Bastian Sihombing
Sumber: travel.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top