PADANG — Ketua DPW PKS Sumatera Barat Ulyadi menyebut kunjungan ke pesantren menjadi ruang mendengarkan cerita suka dan duka pengelola pondok dalam membina santri. Enam pesantren disambangi dalam rentang sebulan, dari Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Agam hingga Madrasah Tarbiyah Islamiyah Batang Kabung, Kota Padang.
Rangkaian Rajut Tali Kebangsaan menyambangi pondok di lima kabupaten dan kota. Berikut daftarnya:
Ulyadi menegaskan kunjungan tersebut bukan agenda seremonial. Dialog dengan pihak pesantren dipakai untuk memahami kondisi pendidikan pondok sekaligus memperkuat komunikasi dengan para pengelola, pendidik, dan santri.
Aspirasi yang disampaikan kalangan pesantren, kata dia, menjadi bahan penting untuk membaca kebutuhan dan tantangan pendidikan berbasis pondok. DPW PKS Sumbar menjadikan temuan itu sebagai pijakan mempererat kebersamaan dengan lingkungan pesantren.
Menurut Ulyadi, pesantren berperan besar dalam membentuk sumber daya manusia yang berilmu dan berakhlak mulia. Pondok bukan hanya tempat menimba ilmu agama, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan penanaman nilai moral.
Para santri dinilai punya potensi besar untuk berkontribusi di tengah masyarakat, menjaga persatuan, dan melanjutkan pembangunan daerah. Karena itu, perhatian terhadap pesantren perlu diperkuat lewat silaturahmi dan kolaborasi lintas elemen.
Memperingati Hari Santri Nasional 2026, Ulyadi berharap para santri semakin bersemangat menuntut ilmu dan pesantren semakin maju serta berdaya. Ia juga ingin sinergi antara pesantren, masyarakat, dan elemen bangsa semakin kuat.
Silaturahmi yang terbangun selama kunjungan diharapkan membuka ruang bagi tersampaikannya aspirasi pesantren. DPW PKS Sumbar menyebut Rajut Tali Kebangsaan sebagai ikhtiar meneguhkan peran santri dalam menjaga persatuan dan membangun masa depan Indonesia.