SUMATERA BARAT — Honda ST125 Dax resmi meluncur di Indonesia dengan dua pilihan warna baru per September 2026: Candy Energy Orange dan Pearl Shining Black. Dengan banderol Rp84,5 juta (OTR Jakarta), motor ini menempati posisi paling aneh di lini produk Honda: secara teknis ia sekelas dengan motor bebek murah, tapi harganya menembus segmen motor premium.
Perbandingan Harga: Satu Dax vs Empat BeAT
Mari kita mulai dari matematika sederhana yang langsung menohok. Honda BeAT, motor matik terlaris Indonesia, dibanderol mulai Rp18,98 juta hingga Rp20,38 juta. Dengan uang Rp84,5 juta, Anda bisa membawa pulang empat unit BeAT dan masih tersisa uang untuk biaya balik nama serta perlengkapan berkendara.
- Honda BeAT (4 unit): Rp75,92 juta – Rp81,52 juta — masih ada sisa Rp3-8,5 juta
- Honda Vario 125 (mesin sama 124,8cc): mulai Rp24,45 juta — Dax setara 3,4 unit
- Honda PCX 160 (mesin lebih besar 160cc): Rp34,35 juta — Dax setara 2,4 unit
Perbandingan paling menyakitkan datang dari PCX 160. Motor dengan kapasitas mesin lebih besar, bagasi luas, dan fitur kenyamanan jauh lebih lengkap itu dibanderol kurang dari separuh harga Dax. Bahkan jika Anda membeli dua PCX 160 sekaligus, totalnya masih di bawah harga satu Dax.
Mesin 124,8cc yang Sama dengan Vario 125
Yang membuat harga ini semakin sulit dicerna adalah jantung pacunya. Honda Dax menggendong mesin 124,8cc—persis sama dengan Vario 125 yang harganya cuma sepertiganya. Tenaga dan torsi yang dihasilkan tidak berbeda signifikan dari skutik entry-level Honda.
Di atas kertas, Dax tidak menawarkan keunggulan performa apa pun. Ia bukan motor cepat, bukan motor irit luar biasa, dan bukan motor paling nyaman untuk perjalanan jauh. Untuk penggunaan harian di kemacetan Jakarta, skutik 125cc mana pun akan terasa lebih praktis berkat adanya ruang bagasi dan pelindung angin.
Untuk Siapa Motor Ini Sebenarnya Dipasarkan?
Honda Dax adalah motor lifestyle murni. Ia tidak dijual untuk menggantikan fungsi BeAT atau Vario, melainkan untuk memenuhi hasrat pengguna yang mencari gaya—khususnya mereka yang ingin tampil beda di jalanan tanpa harus mengorbankan keandalan mesin Honda.
Desainnya yang kompak dengan tangki menonjol dan jok model tunggal panjang mengingatkan pada era kejayaan motor trail mini tahun 70-an. Ini bukan motor yang dirancang untuk dibawa harian, melainkan untuk dipakai saat akhir pekan, dikoleksi di garasi, atau sekadar jadi bahan obrolan di komunitas motor klasik.
Kekurangan yang Harus Dipertimbangkan Sebelum Membayar
Sebagai calon pembeli yang akan mengeluarkan uang puluhan juta, ada beberapa catatan jujur yang perlu Anda bawa ke dealer:
- Nilai jual kembali (resale value) berisiko: motor dengan harga premium dan fungsi terbatas biasanya mengalami depresiasi lebih dalam dibandingkan motor fungsional seperti BeAT yang selalu laku di pasar sekunder.
- Konsumsi bahan bakar: meski mesinnya 125cc, bobot dan rasio gigi Dax yang khas membuat konsumsi bensinnya tidak seirit skutik modern—Anda membayar mahal untuk mesin yang justru lebih boros daripada Vario.
- Kenyamanan berkendara: posisi duduk Dax yang tegak dengan suspensi belakang model ganda ala motor trail membuat perjalanan di jalan rusak terasa lebih keras dibandingkan skutik dengan suspensi monoshock yang lebih panjang.
- Fitur minim: di harga Rp84,5 juta, Anda tidak mendapatkan fitur-fitur yang sudah standar di motor sekelas PCX atau ADV—tidak ada bagasi besar, tidak ada konektivitas smartphone, dan tidak ada perlindungan angin.
Verdict: Bukan Motor, Ini Barang Lifestyle
Honda Dax adalah keputusan emosional, bukan rasional. Jika kebutuhan Anda adalah transportasi harian yang efisien, murah, dan andal—jawabannya jelas: beli BeAT atau Vario, dan simpan sisa uangnya untuk hal lain.
Namun jika Anda adalah kolektor yang paham betul apa yang dibeli, Dax menawarkan sesuatu yang tidak bisa diukur dari spesifikasi: keunikan. Ia langka, ia mencolok, dan ia akan selalu memancing pertanyaan di setiap lampu merah. Untuk segmen ini, harga Rp84,5 juta mungkin terasa sepadan—selama Anda tidak mengharapkan motor ini bekerja seperti motor seharga seperempatnya.
Satu hal yang pasti: jangan pernah membeli Dax dengan alasan "sekalian buat harian". Anda akan kecewa. Belilah karena Anda memang menginginkannya, bukan karena butuh motor.