SUMATERA BARAT — "Kedua proyek ini masuk dalam PSN dan sedang diorkestrasi oleh Danantara untuk melakukan joint FS [feasibility study] dari hulu ke hilir. Insyaallah dalam waktu tidak lama lagi targetnya tahun depan sudah mulai konstruksi," ujar Turino dalam Public Expose Live, Senin (7/9/2026).
Danantara Orkestrasi, Pertamina Jadi Offtaker
Kabar ini menjadi angin segar bagi industri hilirisasi batu bara dalam negeri. Pasalnya, skema kerja sama dan pembiayaan proyek ini tidak berdiri sendiri, melainkan melibatkan sinergi antarsektor badan usaha milik negara (BUMN).
Dalam struktur proyek, Pertamina Group bertindak sebagai pembeli siaga atau standby offtaker. Secara spesifik, PT Pertamina Patra Niaga (PPN) akan menyerap produk DME, sementara PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) atau PGN akan menampung hasil produksi SNG.
Adanya kepastian pembeli dari holding migas pelat merah ini menjadi sinyal kuat bahwa produk hilirisasi PTBA akan langsung terserap pasar. Langkah ini sekaligus menjawab keraguan soal serapan produk substitusi impor LPG dan gas alam tersebut.
DME dan SNG: Jawaban atas Ketergantungan Impor
Proyek DME dan SNG merupakan bagian dari strategi besar pemerintah untuk menekan impor liquefied petroleum gas (LPG) yang selama ini membebani neraca dagang. DME sendiri dikenal sebagai pengganti LPG untuk kebutuhan rumah tangga dan industri, sementara SNG menjadi alternatif energi yang bisa didistribusikan melalui jaringan pipa gas yang sudah ada.
Dengan masuknya kedua proyek ini ke dalam daftar PSN, pemerintah memberikan dukungan penuh dari sisi perizinan, insentif fiskal, hingga percepatan pembebasan lahan. Hal itu diharapkan bisa memangkas waktu pengerjaan yang biasanya memakan waktu bertahun-tahun untuk proyek sebesar ini.
Kendati target konstruksi baru tahun depan, PTBA tengah mematangkan studi kelayakan bersama Danantara. Sinkronisasi dari hulu (tambang) ke hilir (pabrik pengolahan) menjadi pekerjaan rumah yang harus tuntas sebelum proyek mulai digarap.
Keberhasilan proyek ini nantinya tidak hanya akan mengerek pendapatan PTBA dari segmen non-batu bara, tetapi juga memperkuat posisi perusahaan dalam transisi energi. Jika berjalan sesuai jadwal, proyek ini akan menjadi tonggak baru hilirisasi batu bara di Indonesia yang selama ini lebih banyak diekspor dalam bentuk mentah.