SUMATERA BARAT — Jakarta — Perintah itu disampaikan Prabowo dalam sebuah rapat di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Rabu, 9 September. Erick mengungkapkan, Presiden tidak ingin latihan atlet terputus hanya karena pergantian tahun anggaran.
"Beliau langsung meminta saya untuk mengirimkan surat segera kepada Mensesneg bagaimana pelatnas ini bisa nanti multi-years, tidak lagi per tahun, per tahun, per tahun," kata Erick kepada wartawan usai pertemuan.
Masalah yang Ingin Diselesaikan
Erick mencontohkan cabang wushu yang tetap harus menjalani pelatnas sejak Januari. Sementara anggaran tahun berikutnya bisa saja baru cair pada April. Selama jeda itu, atlet terpaksa menunggu tanpa kepastian.
"Jangan sampai atletnya harus kembali pulang dan lain-lain," ujarnya.
Menurut Erick, anggaran yang masih tersisa dapat digunakan lintas tahun. Prabowo juga disebut membuka kemungkinan penambahan anggaran jika kebutuhan pelatnas belum mencukupi.
"Kalau kurang, Bapak Presiden mau nambahin," katanya.
Transparansi Jadi Syarat
Meski skema baru memberi keleluasaan, Erick menekankan pengawasan harus ketat. Ia tidak ingin fleksibilitas anggaran lintas tahun justru membuka celah penyimpangan.
"Yang penting bagaimana mekanisme ini harus transparan dan juga tidak ada indikasi hal-hal yang memang menjadi kasus korupsi di kemudian. Kita harus transparan semuanya dan kita harus lindungi atlet kita," ujarnya.
Skema lintas tahun sebenarnya bukan hal baru di tata kelola anggaran negara. Namun penerapannya di sektor pembinaan olahraga baru kini didorong langsung dari level Presiden.
Bagi atlet dan pelatih, kepastian pendanaan sepanjang siklus pembinaan menjadi krusial. Pelatnas yang terputus di tengah jalan memaksa mereka mengulang program, sekaligus membuang waktu persiapan menjelang kompetisi.
Langkah berikutnya ada di meja Mensesneg. Surat dari Erick akan menentukan seberapa cepat skema multi-years ini bisa berjalan dan menggantikan pola anggaran tahunan yang selama ini dipakai.