Pencarian

Minyak Bumi Habis 40 Tahun Lagi? Ini Penjelasan OPEC dan IEA

Minggu, 20 September 2026 • 09:06:31 WIB
Minyak Bumi Habis 40 Tahun Lagi? Ini Penjelasan OPEC dan IEA

SUMATERA BARAT — Cadangan minyak mentah terbukti dunia tercatat 1,567 triliun barel hingga akhir 2024, sementara konsumsi harian mencapai 105,15 juta barel pada 2025. Angka itu memunculkan pertanyaan apakah minyak bumi benar-benar akan habis dalam 40 tahun. OPEC dan IEA menilai perhitungan sederhana cadangan dibagi konsumsi tidak cukup untuk menjawabnya.

Jakarta. Minyak bumi masih menjadi tulang punggung energi dunia. Bahan bakar kendaraan, penerbangan, industri, hingga produk petrokimia bergantung pada komoditas yang terbentuk lewat proses geologi jutaan tahun. Karena pemakaiannya terus berjalan, pertanyaan soal kapan minyak akan habis selalu muncul.

Data OPEC dalam Annual Statistical Bulletin 2026 menunjukkan permintaan minyak dunia rata-rata 105,15 juta barel per hari sepanjang 2025. Produksi minyak mentah dunia saat itu 74,85 juta barel per hari. Adapun cadangan minyak mentah terbukti dunia hingga akhir 2024 sekitar 1,567 triliun barel.

Bagi cadangan terbukti dengan konsumsi harian, hasilnya memang jatuh di kisaran 40 tahun. Namun, angka itu bukan ramalan bahwa minyak akan benar-benar habis empat dekade dari sekarang.

Apa Itu Cadangan Terbukti dan Mengapa Angkanya Bisa Berubah

Cadangan terbukti adalah minyak yang secara geologi dan teknis diperkirakan dapat dipulihkan dengan tingkat kepastian tertentu. Perhitungannya bergantung pada kondisi ekonomi dan teknologi yang berlaku saat itu.

Jumlahnya tidak statis. Temuan cadangan baru, perkembangan teknologi, perubahan harga minyak, dan perubahan kondisi produksi bisa mengubah angka cadangan dari waktu ke waktu. Karena itu, cadangan tidak bisa dianalogikan seperti isi tangki yang terus menyusut tanpa penambahan.

U.S. Energy Information Administration (EIA) menjelaskan rasio cadangan terhadap produksi memang sering dipakai memperkirakan usia cadangan minyak. Lembaga ini mengingatkan ukuran tersebut bisa menyesatkan jika dijadikan prediksi jangka panjang.

Cadangan terbukti hanya mencakup sumber daya yang sudah diketahui dan bisa diproduksi secara ekonomis pada kondisi tertentu. Seiring teknologi berkembang dan proyek baru bermunculan, jumlah cadangan yang dapat diproduksi ikut berubah.

Kapan Permintaan Minyak Diprediksi Mencapai Puncak

International Energy Agency (IEA) dalam World Energy Outlook 2025 memproyeksikan permintaan minyak dunia mencapai sekitar 102 juta barel per hari pada sekitar 2030 dalam skenario Stated Policies Scenario (STEPS). Setelah itu, permintaan berangsur menurun. Salah satu pemicunya adalah pertumbuhan kendaraan listrik.

Dalam laporan Oil 2025, IEA mencatat permintaan minyak global diperkirakan naik hingga sekitar 105,5 juta barel per hari pada akhir dekade. Setelah fase itu, permintaan memasuki periode datar dan mulai turun tipis pada 2030.

Perbedaan angka antarproyeksi menunjukkan tidak ada satu prediksi tunggal soal masa depan minyak. Hasilnya bergantung pada asumsi kebijakan pemerintah, pertumbuhan ekonomi, penetrasi kendaraan listrik, teknologi energi bersih, dan kondisi pasar.

Kendaraan Listrik Bukan Satu-satunya Faktor

Kendaraan bermotor memang sering jadi sorotan ketika membahas penurunan konsumsi minyak. IEA mencatat permintaan minyak untuk sektor petrokimia dan penerbangan justru diperkirakan masih meningkat dalam jangka panjang.

Artinya, kendaraan listrik yang mengurangi bensin dan solar tidak otomatis menghapus kebutuhan minyak. Minyak tetap menjadi bahan baku berbagai produk petrokimia yang dipakai sehari-hari. Transisi energi karena itu tidak sekadar mengganti kendaraan berbahan bakar minyak, tetapi juga mencari alternatif untuk penggunaan minyak lainnya.

Jadi, Kapan Minyak Bumi Habis?

Tidak ada tahun yang bisa disebut sebagai tanggal pasti habisnya minyak bumi dunia. Perhitungan sederhana antara cadangan terbukti dan konsumsi saat ini memang menunjukkan cadangan masih bertahan beberapa puluh tahun.

EIA menegaskan pendekatan itu bukan ukuran tepat untuk memprediksi kapan seluruh sumber daya minyak habis. Teknologi, penemuan cadangan baru, tingkat produksi, harga, kebijakan energi, dan perubahan permintaan bisa mengubah perhitungannya kapan saja.

Dunia juga tidak perlu menunggu minyak di perut bumi benar-benar kosong untuk berhenti memakainya. Perubahan teknologi, harga, kebijakan energi, dan munculnya sumber energi alternatif dapat menekan permintaan minyak lebih dulu sebelum cadangan benar-benar habis.

Bagi Indonesia, dinamika ini relevan karena minyak masih menjadi komponen penting dalam bauran energi dan penerimaan negara. Arah kebijakan energi ke depan akan menentukan seberapa cepat ketergantungan pada minyak berkurang, tanpa mengabaikan kebutuhan sektor petrokimia dan penerbangan yang sulit disubstitusi dalam waktu dekat.

Follow inisumbar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks