Dosen Universitas Negeri Padang (UNP) melaksanakan pengabdian masyarakat melalui program FUNSCIENCE for Conceptual Change bagi guru IPA SMP yang tergabung dalam MGMP IPA Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat. Program yang diketuai Intan Lestari Mulyaning Tyas ini dirancang memperkuat pemahaman konsep IPA guru sekaligus memberikan strategi meluruskan miskonsepsi siswa melalui eksperimen konflik kognitif berbasis STEM. Kegiatan berlangsung dalam dua tahap, yakni penguatan materi pada Senin (31/8) dan pendampingan eksperimen di SMPN 2 Sijunjung pada Jumat (4/9).
PADANG — Tim dosen Universitas Negeri Padang yang diketuai Intan Lestari Mulyaning Tyas, S.Pd., M.Pd., bersama anggota Ummiatul Fitri, M.Pd., Ifan Rivaldo, S.Pd., Gr., M.Pd., dan Elisa Maiyenti, S.T., M.Eng., menjalankan program pengabdian bertajuk "FUNSCIENCE for Conceptual Change: Pendampingan Guru IPA SMP untuk Penguatan Konsep dan Pelurusan Miskonsepsi melalui Eksperimen Konflik Kognitif Berbasis STEM". Sasaran program adalah guru IPA SMP yang tergabung dalam MGMP IPA Kabupaten Sijunjung. Program ini menyasar persoalan yang masih dihadapi pembelajaran IPA di sekolah mitra.
Berdasarkan analisis situasi dalam proposal kegiatan, pembelajaran IPA di sekolah mitra masih menghadapi sejumlah tantangan. Pemanfaatan eksperimen yang bermakna masih terbatas, kegiatan praktikum cenderung mengikuti prosedur yang tersedia, dan penerapan pembelajaran berbasis STEM belum optimal.
Penguatan Materi Dibuka dengan Topik Pembelajaran IPA Berbasis STEM
Kegiatan pertama digelar pada Senin (31/8) melalui penguatan materi bertopik "Pembelajaran IPA Berbasis STEM" dengan narasumber Widia Kemala Sari, S.Pd., M.Pd. Tahap awal ini memberi penguatan kepada guru mengenai pendekatan STEM dalam pembelajaran IPA.
Guru diajak memahami bagaimana konsep IPA dapat dihubungkan dengan teknologi, proses rekayasa, matematika, serta permasalahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
"Pembelajaran berbasis STEM dipandang relevan dengan kebutuhan pembelajaran IPA abad ke-21, karena memberikan ruang kepada peserta didik untuk melakukan eksplorasi, memecahkan masalah, mengembangkan solusi, serta menghubungkan konsep sains dengan konteks nyata," kata Intan Lestari Mulyaning Tyas di Padang, Minggu.
Eksperimen Fun Science di SMPN 2 Sijunjung Jadi Bagian Inti Program
Tahap berikutnya berlangsung pada Jumat (4/9) di SMPN 2 Sijunjung. Kegiatan ini menjadi bagian penting dari implementasi program FUNSCIENCE for Conceptual Change melalui aktivitas eksperimen dan pendampingan guru.
Program mengembangkan kegiatan Fun Science sebagai strategi pedagogis untuk menghadirkan konflik kognitif. Guru tidak hanya diarahkan melaksanakan praktikum sebagai demonstrasi, tetapi juga merancang eksperimen yang memungkinkan peserta didik membandingkan pemahaman awal dengan hasil pengamatan atau bukti eksperimen.
Melalui proses tersebut, guru dapat mengarahkan peserta didik melakukan refleksi terhadap pemahaman awal, mengidentifikasi ketidaksesuaian konsep, dan membangun kembali pemahaman yang lebih sesuai dengan konsep ilmiah.
Perangkat Ajar Pakai Bahan Mudah Diperoleh dan LKPD Scaffolding
Dalam rancangan program, eksperimen Fun Science dikembangkan menggunakan bahan-bahan yang mudah diperoleh. Perangkat ini dilengkapi LKPD scaffolding berbasis STEM dan panduan implementasi pembelajaran.
Perangkat tersebut dirancang agar guru dapat menggunakannya secara fleksibel dalam pembelajaran IPA maupun kegiatan praktikum sederhana. Guru juga didampingi menyusun aktivitas pembelajaran serta LKPD yang memberikan bantuan bertahap melalui pertanyaan-pertanyaan terstruktur.
Dengan demikian, peserta didik memperoleh kesempatan mengeksplorasi fenomena, menganalisis hasil eksperimen, serta mengembangkan solusi sederhana.
Integrasi Fun Science, Konflik Kognitif, dan STEM
Salah satu kekuatan kegiatan ini adalah integrasi tiga komponen pembelajaran, yaitu Fun Science, konflik kognitif, dan STEM. Eksperimen tidak ditempatkan hanya sebagai kegiatan praktik untuk membuktikan teori, tetapi sebagai pengalaman belajar yang mendorong peserta didik mempertanyakan pemahaman awalnya.
Pendekatan STEM memberikan konteks agar konsep yang dipelajari dapat dikaitkan dengan permasalahan dan penerapan dalam kehidupan nyata. Guru diarahkan agar memiliki pengalaman merancang eksperimen sederhana, mengembangkan LKPD, mengintegrasikan STEM, serta menggunakan konflik kognitif sebagai bagian dari proses pembelajaran untuk mendukung perubahan konseptual.
Melalui kegiatan ini, guru diharapkan membawa pengalaman yang diperoleh ke dalam pembelajaran di sekolah masing-masing. Program tidak berhenti pada pelatihan, tetapi dirancang untuk dilanjutkan sebagai pendampingan berkelanjutan bagi guru IPA di Kabupaten Sijunjung.