Pemerintah Kabupaten Pasaman Barat, Sumatera Barat, memperkuat gerakan literasi melalui seminar bertajuk "Seribu Guru Hebat, Sejuta Murid Hebat" yang menghadirkan Duta Baca Indonesia Gol A Gong di Simpang Empat. Kegiatan ini digelar Dinas Kearsipan dan Perpustakaan bersama Forum Pegiat Literasi dan PGRI Pasaman Barat dengan peserta guru dan siswa. Bupati Yulianto menyebut seminar ini menjadi upaya mendorong budaya membaca dan menulis sekaligus membangun karakter serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
SIMPANG EMPAT — Bupati Pasaman Barat Yulianto menilai pembangunan daerah tidak cukup hanya mengandalkan infrastruktur. Peningkatan kualitas manusia melalui pendidikan dan penguatan budaya literasi harus berjalan beriringan.
Menurut Yulianto, literasi tidak sebatas kemampuan membaca dan menulis. Cakupannya meliputi kemampuan memahami informasi, memperluas wawasan, mengembangkan pemikiran, serta menerapkan pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari.
Peran Strategis Guru dalam Cetak Generasi
Yulianto mengapresiasi peran guru dalam mendidik dan membentuk karakter generasi penerus bangsa. Guru dinilai memiliki posisi strategis dalam mencetak generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki moral, etika, dan tanggung jawab sosial.
Ia berharap penguatan literasi dapat mengarahkan minat dan bakat pelajar, membangun karakter, serta mendorong kebiasaan belajar yang produktif di tengah berbagai tantangan. Upaya melahirkan generasi berkualitas, kata dia, membutuhkan kerja sama berkelanjutan antara pemerintah, guru, orang tua, dan masyarakat.
Pemkab Pasaman Barat akan terus mendukung kegiatan literasi agar pelaksanaannya semakin berkembang dan memberikan manfaat lebih luas bagi dunia pendidikan maupun masyarakat.
Bunda Literasi: Budaya Membaca Tanggung Jawab Bersama
Bunda Literasi Pasaman Barat Sifrowati Yulianto menegaskan bahwa pengembangan budaya literasi merupakan tanggung jawab bersama. Pemerintah, sekolah, keluarga, masyarakat, dan komunitas harus terlibat.
"Gerakan literasi merupakan tanggung jawab kita bersama. Pemerintah, sekolah, keluarga, masyarakat, dan komunitas harus berjalan bersama dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya budaya membaca," ujarnya.
Ia menjelaskan, budaya membaca perlu ditanamkan sejak dini melalui lingkungan yang mendorong anak-anak untuk terus belajar, mengembangkan rasa ingin tahu, dan menjadikan pengetahuan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Kehadiran Duta Baca Indonesia Gol A Gong dalam seminar tersebut dinilai menjadi momentum untuk memperkuat semangat dan motivasi para guru serta pegiat literasi dalam mengembangkan budaya membaca dan menulis di Pasaman Barat.
"Manusia yang berilmu akan mampu memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya. Ilmu menjadi bekal untuk menjaga nilai budaya, memperkuat karakter, serta menghadapi perkembangan zaman," ujar dia.
Kolaborasi Dinas, Pegiat Literasi, dan PGRI
Seminar itu diadakan oleh Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Pasaman Barat bersama Forum Pegiat Literasi dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Pasaman Barat. Pesertanya terdiri dari guru dan siswa.