Pencarian

Target Menyusui Tak Tercapai: Dampaknya pada Mental Bunda Busui

Rabu, 14 Oktober 2026 • 09:06:31 WIB
Target Menyusui Tak Tercapai: Dampaknya pada Mental Bunda Busui
Studi Yale School of Medicine menemukan kaitan antara target menyusui yang tidak tercapai dan penurunan kesehatan mental pascapersalinan.

SUMATERA BARAT — Sebanyak 40 persen ibu yang berhenti menyusui mengaku target menyusui prenatalnya tidak tercapai, dan 60 persen di antaranya merasa kecewa dengan hasil itu. Studi terbaru dari Yale School of Medicine menemukan kaitan erat antara target menyusui yang gagal dan penurunan kesehatan mental pascapersalinan. Simak penjelasan lengkapnya agar Bunda tidak menyalahkan diri sendiri.

Menetapkan target menyusui, misalnya sampai bayi berusia dua tahun, adalah hal yang wajar. Namun, ketika target itu tidak tercapai, banyak ibu yang justru menyalahkan diri sendiri hingga memengaruhi kondisi mentalnya.

Penelitian terbaru dari Yale School of Medicine mengungkap bahwa kekecewaan ini bukan sekadar perasaan sesaat. Ada kaitan yang cukup kuat antara target menyusui yang tidak tercapai dengan kesehatan emosional ibu setelah melahirkan.

Dampak Target Menyusui yang Tidak Tercapai

Studi tersebut menemukan prevalensi tinggi ibu yang tidak mencapai target menyusui prenatalnya setelah persalinan. Ibu yang targetnya gagal juga melaporkan tingkat kepuasan dan keberhasilan menyusui beberapa kali lebih rendah dibandingkan mereka yang berhasil.

Menurut Deanna Nardella dari Yale School of Medicine (YSM), hasil yang berpusat pada individu seperti kesejahteraan orang tua dan kesehatan emosional sangat penting untuk mengukur pengalaman perjalanan menyusui seseorang.

"Temuan ini menegaskan dampak negatif yang mungkin dari tujuan menyusui yang tidak tercapai terhadap kesehatan mental dan emosional pasca melahirkan individu, sebuah hubungan yang kompleks dan menjadi kontributor penting terhadap morbiditas dan mortalitas pasca melahirkan," kata Nardella, instruktur di YSM dan penulis koresponden studi baru ini.

Angka yang Perlu Bunda Ketahui

Dari peserta yang berhenti menyusui setelah survei selesai, sebanyak 40 persen memiliki target menyusui prenatal yang belum tercapai. Di antara mereka, 60 persen mengaku kecewa dengan hasil tersebut.

Peneliti juga membandingkan temuan ini dengan studi di Amerika Serikat satu hingga dua dekade sebelumnya. Hasilnya, prevalensi target yang belum tercapai kini sedikit lebih rendah, meski masih ada ruang untuk perbaikan.

Penelitian sebelumnya yang meneliti penghentian menyusui yang tidak direncanakan, menggunakan data CDC tahun 2005-2007 dan program WIC tahun 2013, melaporkan bahwa setengah hingga tiga perempat ibu berhenti menyusui lebih awal dari yang mereka inginkan.

Mengapa Ukuran "Sukses Menyusui" Perlu Diubah

Selama ini, durasi menyusui sering dijadikan satu-satunya ukuran keberhasilan. Padahal, kata peneliti, pengalaman menyusui dan dukungan yang diterima ibu juga perlu dinilai secara lebih luas.

Dalam studi baru ini, peneliti sengaja menghindari penilaian terhadap target spesifik ibu. Sebagai gantinya, mereka bertanya apakah peserta telah mencapai, tidak mencapai, atau masih berusaha menuju target menyusui prenatal pribadinya.

Peneliti juga menilai seberapa puas dan sukses ibu merasa menyusui secara keseluruhan, diukur dengan skala Likert lima poin. Tujuannya agar hasil yang berpusat pada individu bisa menjadi acuan penelitian berikutnya.

Kebijakan Pendukung Menyusui yang Sudah Ada

Sejumlah kebijakan di Amerika Serikat telah diberlakukan untuk melindungi dan mendukung ibu menyusui. Di antaranya Inisiatif Rumah Sakit Ramah Bayi, Undang-Undang Perawatan Terjangkau, dan Undang-Undang PUMP.

Pada Januari 2026, peneliti Yale menugaskan penyedia panel survei XandY Analytics untuk merekrut 712 orang dewasa dengan bayi cukup bulan berusia tiga hingga 24 bulan yang lahir di Amerika Serikat. Survei ini dirancang untuk meneliti praktik penggunaan pompa ASI di dunia nyata.

Peserta yang dilibatkan harus melaporkan pernah menggunakan pompa ASI setelah persalinan penuh. Pertanyaan survei diadaptasi dari survei CDC yang sudah ada.

Kapan Bunda Perlu Mencari Bantuan

Jika rasa kecewa karena target menyusui tidak tercapai berlangsung lama, mengganggu tidur, nafsu makan, atau membuat Bunda sulit merawat bayi, jangan ragu mencari bantuan profesional.

Konsultasi dengan dokter, bidan, atau konselor laktasi bisa membantu Bunda menemukan jalan keluar. Dukungan dari pasangan dan keluarga juga berperan besar dalam menjaga kesehatan mental ibu menyusui.

Target menyusui sebaiknya jadi motivasi, bukan beban yang membuat Bunda merasa gagal. Setiap perjalanan menyusui berbeda, dan kesehatan mental Bunda sama pentingnya dengan asupan ASI untuk Si Kecil.

Follow inisumbar.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: haibunda.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Berita Terkini

Indeks