SUMATERA BARAT — Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkap subsidi LPG membengkak hampir Rp100 triliun akibat harga minyak mentah Indonesia (ICP) melonjak ke 112,81 dolar AS per barel pada September 2026. Lonjakan ini memaksa pemerintah mempercepat transisi ke gas alam terkompresi (CNG) sebagai substitusi impor LPG.
Bahlil menyampaikan angka itu saat meresmikan Kilang LPG Cilamaya di Karawang, Jawa Barat, Kamis (15/10/2026). Ia menjelaskan, saat ICP masih di level 70 dolar AS per barel, subsidi LPG hanya sekitar Rp87 triliun. Begitu harga rata-rata minyak mentah naik ke 90–100 dolar AS per barel, beban subsidi melonjak di atas hampir Rp100 triliun.
Penyebabnya bukan faktor domestik. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, perang Rusia-Ukraina, hingga konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran membuat pasokan energi dunia terganggu.
ICP September 2026 Cetak 112,81 Dolar AS per Barel
Data Kementerian ESDM mencatat ICP September 2026 ditetapkan 112,81 dolar AS per barel. Angka itu melonjak 23,38 dolar AS dibanding Agustus 2026 yang berada di level 89,43 dolar AS per barel.
Penetapan tersebut dituangkan dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 395.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Indonesia Bulan September 2026.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Laode Sulaeman menyebut lonjakan ICP mencerminkan tingginya risiko gangguan pasokan di pasar internasional. Kenaikan terjadi merata di semua benchmark minyak mentah dunia.
"Eskalasi konflik militer serta kebuntuan jalur diplomasi di Timur Tengah—khususnya ketegangan yang melibatkan AS dan Iran—meningkatkan ancaman keamanan jalur pelayaran vital di Selat Hormuz," ujar Laode.
Ia menambahkan, penundaan penyesuaian kuota produksi oleh OPEC+ serta serangan terhadap infrastruktur kilang dan terminal ekspor di Rusia dan kawasan Laut Merah semakin mengetatkan volume pasokan minyak mentah global.
CNG Jadi Jawaban, Tabung 3 Kg Masih Diuji
Pemerintah menyiapkan CNG sebagai jalan keluar dari ketergantungan impor LPG. Menurut Bahlil, CNG bukan komoditas baru—sektor industri, hotel, dan restoran sudah lama memakainya.
Harganya 30–40 persen lebih murah dibanding LPG. Bahan bakunya, gas jenis C1 dan C2, melimpah di dalam negeri.
"Ini adalah langkah strategis menciptakan substitusi impor. Untuk tabung kapasitas 12 kg sudah beroperasi dan digunakan, sementara tabung 3 kg saat ini sedang dalam tahap pengujian kelaikan," kata Bahlil.
Uji coba tabung CNG 3 kg menyasar rumah tangga, kelompok pengguna terbesar LPG bersubsidi. Jika lolos uji kelaikan, skema ini berpotensi memangkas volume impor LPG yang selama ini menekan neraca dagang.
Tekanan ke Anggaran dan Rantai Pasok
Setiap kenaikan 10 dolar AS per barel ICP menambah beban subsidi LPG secara signifikan. Dengan ICP September 2026 yang menembus 112,81 dolar AS per barel, ruang fiskal pemerintah kian sempit.
Di sisi lain, pelaku usaha pengguna LPG juga menunggu kepastian harga. Hotel, restoran, dan industri kecil menengah menjadi kelompok paling rentan jika penyesuaian harga LPG nonsubsidi ikut menyesuaikan pasar global.
Bahlil menegaskan hampir semua negara kini fokus mengamankan ketahanan energi masing-masing. "Ini menjadi tantangan besar bagi Indonesia," ucapnya.
Peresmian Kilang LPG Cilamaya sendiri menjadi bagian dari upaya memperkuat pasokan domestik. Kilang ini diharapkan mengurangi ketergantungan pada LPG impor seiring berjalannya transisi ke CNG.
Bagi konsumen, uji coba tabung CNG 3 kg menjadi penentu apakah alternatif ini bisa diterima luas. Keberhasilannya bergantung pada kelaikan teknis, ketersediaan jaringan distribusi, dan harga jual yang benar-benar lebih murah dari LPG bersubsidi.