PADANG — Lima wajah baru akan menghiasi panggung Festival Komposer Soundenai 2 pada Oktober 2026. Mereka adalah Rofi Rahmatullah, Dimas Hidayatullah, Rianda Putra, Fajri Ananda, dan Fadil Asy'ari, yang berhasil melewati proses kurasi dalam lokakarya komposisi musik yang digelar Taman Budaya Sumatera Barat.
Kelimanya tidak dipilih sembarangan. Indra Ariffin, akademisi Institut Seni Indonesia (ISI) Padang Panjang yang menjadi narasumber, menjelaskan bahwa penilaian dilakukan dari berbagai aspek. Mulai dari kemampuan teknis seperti penguasaan instrumen, akurasi nada, hingga tempo dan teknik bernyanyi atau bermain musik.
"Penilaian lainnya yakni seberapa cepat peserta menyerap materi lokakarya dari awal hingga akhir acara dan ketepatan waktu, kedisiplinan, etika, dan kemampuan bekerja sama antara peserta," kata Indra.
Yang membedakan seleksi ini adalah bobot pada musikalitas dan kreativitas. Para juri menilai bagaimana para komposer muda mampu menggarap karya yang berakar dari idiom musik tradisional Minangkabau. Bukan sekadar meniru, melainkan mengolahnya dalam bentuk baru yang relevan.
Ade Efdira, Kasi Produksi dan Kreasi Seni Budaya UPTD Taman Budaya Dinas Kebudayaan Provinsi Sumbar, menegaskan lokakarya ini punya misi besar. Harapannya, para peserta menciptakan karya audio visual yang berkarakter lokal namun berkualitas global, yang mampu memperkenalkan identitas budaya Minangkabau kepada dunia luas melalui medium seni modern.
Setelah terpilih, para komposer tidak langsung tampil. Mereka akan menjalani proses produksi selama lima bulan ke depan, mulai sekarang hingga mendekati panggung Soundenai 2. Selama masa tersebut, mereka akan dibimbing langsung oleh instruktur yang telah ditunjuk.
"Mereka terpilih akan tampil pada ajang Soundenai 2 yang diselenggarakan Oktober 2026, sebelum itu mereka akan diberi waktu lima bulan untuk proses produksi di bawah bimbingan instruktur," ujar Ade, Sabtu.
Indra Ariffin menambahkan, kelima komposer ini dinilai paling siap dan mampu langsung mempraktikkan masukan serta koreksi dari mentor selama lokakarya. Mereka dinyatakan lolos setelah mempresentasikan karya pada hari ketiga lokakarya komposisi musik.
Dari sisi teknis, mereka dinilai unggul dalam penguasaan instrumen, akurasi nada, tempo, dan teknik bernyanyi atau bermain musik. Namun, yang membuat mereka menonjol adalah kemampuan menyerap materi dan berkolaborasi dengan sesama peserta.
Soundenai 2 diharapkan menjadi panggung bagi musik kontemporer yang tetap membawa napas Minangkabau. Dengan proses kurasi yang ketat dan pendampingan intensif, kelima komposer ini diharapkan bisa menghadirkan pertunjukan yang tidak hanya memukau secara artistik, tetapi juga memperkuat posisi musik tradisional di kancah global.