SUMATERA BARAT — Bupati Kudus, Sam’ani Intakoris, membuka secara resmi perhelatan tersebut melalui pementasan kolosal yang melibatkan Tim Penggerak PKK Kabupaten Kudus dan karyawan PT Nojorono Tobacco International. Kolaborasi ini memperkuat simbol kebersamaan yang menjadi akar dari tradisi Caping Kalo.
Para kontestan ditantang mengolah nilai-nilai ketelitian, kesabaran, dan kerja kolektif yang melekat pada proses pembuatan caping ke dalam koreografi. Setiap kelompok menyajikan interpretasi berbeda dari aktivitas menganyam bambu hingga membentuk caping—topi petani tradisional yang ikonik.
“Caping Kalo bukan hanya sebagai simbol, tetapi juga menjadi nilai kehidupan yang diwariskan dari tiap generasi. Harapannya, nilai tersebut bisa dirasakan lebih dekat dan dipahami melalui berbagai ekspresi, termasuk tari,” ujar Dimas Handoko, Corporate Social Responsibility Head PT Nojorono Tobacco International.
Dimas menambahkan bahwa inisiatif ini tidak berhenti pada ekspresi seni. Pihaknya menekankan pentingnya dampak ekonomi dan sosial bagi masyarakat sekitar. “Pelestarian budaya harus berjalan berdampingan dengan pemberdayaan masyarakat. Kami terus berkomitmen dalam menjaga warisan budaya sekaligus memberikan dampak ekonomi dan sosial bagi masyarakat,” tuturnya.
Festival ini merupakan bagian dari rangkaian program pelestarian warisan budaya khas Kudus yang lebih besar. Puncak acara direncanakan pada September 2026 dengan upaya pemecahan Rekor MURI, meskipun detail rekor yang akan dipecahkan belum diumumkan secara resmi.
Caping Kalo selama ini dikenal sebagai perlengkapan petani di kawasan Kudus dan sekitarnya. Namun, festival ini menunjukkan upaya mentransformasi benda fungsional tersebut menjadi medium ekspresi artistik yang relevan bagi generasi muda.
Dengan melibatkan 12 kelompok tari yang telah melalui kurasi ketat, penyelenggara berharap tradisi menganyam caping tidak punah. Sebaliknya, tradisi itu bisa berkembang menjadi bentuk kesenian baru yang tetap menghormati nilai-nilai aslinya.