PADANG — Momentum 100 tahun Jam Gadang menjadi panggung bagi M. Zuhrizul untuk melontarkan kritik terhadap arah pembangunan pariwisata Sumatera Barat. Ketua TP2DEWI itu menilai, ikon wisata yang mendunia seperti Jam Gadang, Benteng Fort de Kock, hingga Lobang Jepang hanyalah warisan masa lalu yang tidak bisa terus-menerus diandalkan.
“Sebagian besar destinasi wisata kita merupakan ciptaan Tuhan berupa keindahan alam, atau peninggalan penjajah Belanda dan Jepang. Kita belum melihat daya tarik wisata yang benar-benar menjadi hasil karya besar kepala daerah,” ujar Zuhrizul kepada wartawan di Padang.
Menurut Zuhrizul, Sumatera Barat selama ini masih “ditolong” oleh warisan sejarah kolonial. Objek seperti kawasan bekas tambang batu bara di Sawahlunto, kawasan kota tua di Padang, hingga Kelok 44 masih menjadi magnet utama wisatawan. Ia menilai kondisi ini menunjukkan belum ada terobosan signifikan dari pemimpin daerah dalam menciptakan destinasi baru.
“Objek-objek itu sampai hari ini masih menjadi magnet wisata. Artinya, kita perlu memikirkan warisan baru yang bisa dikenang generasi mendatang,” katanya.
Zuhrizul tidak hanya menyoroti masalah. TP2DEWI, lembaga yang dipimpinnya, telah mengusulkan sejumlah proyek strategis yang dinilai mampu menjadi ikon baru. Salah satunya adalah pembangunan Taman Safari di Kabupaten Agam melalui kerja sama pemerintah daerah, investor, dan Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) Sumbar.
Dalam konsep ini, Kebun Binatang Bukittinggi akan dialihfungsikan menjadi taman burung atau wahana wisata perkotaan. Satwa-satwa akan dipindahkan ke kawasan safari yang lebih luas, termasuk menghadirkan wahana night safari sebagai daya tarik malam hari.
Selain itu, TP2DEWI mengusulkan pembangunan kebun buah terpadu di Padang Pariaman. Kawasan ini dirancang sebagai destinasi rekreasi, edukasi, penelitian, dan pusat konservasi buah-buahan lokal yang mulai langka di Sumatera Barat.
Gagasan lain yang didorong adalah pembangunan Kampung Minang. Kawasan ini akan menampilkan rumah adat khas dari seluruh kabupaten dan kota, berfungsi sebagai pusat wisata budaya, edukasi, akomodasi, hingga pusat pembelajaran silek tradisional Minangkabau.
Zuhrizul juga mendorong pemugaran menyeluruh Candi Padang Roco di Kabupaten Dharmasraya. Situs ini dinilai memiliki nilai sejarah penting sebagai jejak awal peradaban Minangkabau sebelum masa pemerintahan Adityawarman di Pagaruyung. Jika ditata optimal, kawasan itu berpotensi menjadi destinasi edukasi sejarah wajib bagi pelajar.
Proyek ambisius lainnya adalah pembangunan Planetarium Bonjol di Kabupaten Pasaman. Keberadaan garis khatulistiwa di kawasan tersebut dinilai menjadi modal kuat untuk menciptakan destinasi wisata edukasi berbasis sains dan literasi.
Zuhrizul berharap kepala daerah ke depan tidak hanya fokus pada program jangka pendek. Ia mendorong lahirnya gagasan besar yang meninggalkan nilai sejarah dan manfaat jangka panjang bagi masyarakat.
“Kita berharap akan lahir daya tarik wisata baru yang dikenang generasi Minang dan dunia. Kepala daerah datang dan pergi, tetapi karya besarnya harus tetap hidup menjadi cerita bagi anak cucu kita nantinya,” tutup Zuhrizul.