Gubernur Sumbar: Kesiapsiagaan Bencana Bukan Lagi soal Kapan Terjadi, Tapi Apakah Kita Sudah Siap

Penulis: Binsar Gultom  •  Kamis, 11 Juni 2026 | 20:44:01 WIB
Gubernur Sumbar menegaskan kesiapsiagaan bencana sebagai prioritas utama menghadapi ancaman gempa dan tsunami.

PADANG — Sumatera Barat berada di kawasan aktif tektonik dengan zona subduksi megathrust Mentawai di sebelah barat. Ancaman gempa besar dan tsunami bukan lagi sekadar skenario, melainkan keniscayaan yang harus dihadapi dengan sistem dan kelembagaan yang kuat.

Hal itu disampaikan Medi Iswandi mewakili Gubernur Sumbar saat membuka paparan eksekutif Kuliah Kerja Dalam Negeri (KKDN) Perwira Siswa Dikreg Level V Sesko TNI Tahun Ajaran 2026 di Auditorium Gubernuran, Kamis (11/6/2026).

“Sumatera Barat dapat dikatakan sebagai laboratorium nyata kebencanaan karena memiliki 13 jenis potensi bencana. Namun yang paling penting bukan hanya memahami ancamannya, melainkan memastikan seluruh unsur siap menghadapinya,” ujar Medi.

Pelajaran dari Gempa 2009: Siapkah Kita?

Medi mengingatkan bahwa gempa besar yang melanda Sumbar pada 2009 menjadi pelajaran berharga. Dampak bencana, menurutnya, tidak hanya ditentukan oleh besarnya ancaman alam, tetapi oleh tingkat kesiapan sistem dan kesadaran masyarakat terhadap risiko.

“Pertanyaan yang harus terus dijawab bersama bukan lagi apakah bencana akan terjadi, melainkan apakah seluruh pihak telah siap ketika bencana datang,” tegasnya.

Langkah Nyata: Peringatan Dini hingga Nagari Tangguh Bencana

Pemprov Sumbar telah mengimplementasikan sejumlah langkah konkret. Mulai dari penguatan sistem peringatan dini, peningkatan kapasitas aparatur dan relawan, pengembangan nagari tangguh bencana, hingga penyusunan rencana kontingensi tsunami. Seluruh upaya itu diintegrasikan ke dalam perencanaan pembangunan daerah.

Namun, Medi mengakui masih ada tantangan besar. Keterbatasan infrastruktur evakuasi, rendahnya literasi kebencanaan masyarakat, dan koordinasi antarlembaga yang belum optimal menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan bersama.

“Masih banyak tantangan yang perlu menjadi perhatian kita bersama, terutama pada aspek penguatan infrastruktur dan literasi masyarakat. Oleh karena itu, ini perlu dukungan banyak pihak, tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah semata,” tegas Medi.

Peran TNI: Bukan Hanya Saat Tanggap Darurat

Medi menekankan pentingnya peran TNI dalam membangun budaya siaga. Kehadiran TNI tidak hanya vital saat tanggap darurat, tetapi juga dalam edukasi, pelatihan, dan simulasi kebencanaan di tengah masyarakat.

Kegiatan KKDN Sesko TNI dinilai menjadi ruang strategis untuk menghubungkan kebijakan nasional dengan implementasi di daerah. Hasil kajian yang dihasilkan diharapkan menjadi masukan kebijakan dan referensi dalam memperkuat sistem kesiapsiagaan bencana, baik di Sumatera Barat maupun secara nasional.

Kegiatan itu turut dihadiri Komandan Sesko TNI Marsekal Madya TNI Arif Widianto, para pejabat utama Sesko TNI, unsur Forkopimda Provinsi Sumbar, serta para Perwira Siswa Dikreg Level V Sesko TNI Tahun Ajaran 2026.

Reporter: Binsar Gultom
Sumber: sumbar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top