PADANG PARIAMAN — Ratusan pelajar dari SMA INS Kayu Tanam, SMK Negeri 1 Kayu Tanam, dan SMK Negeri Kayu Tanam tampak antusias mengikuti rangkaian festival yang digelar sejak pagi. Mereka tidak hanya mendapatkan teori tentang aturan lalu lintas, tetapi juga diajak mengikuti simulasi keselamatan berkendara dan sesi diskusi interaktif.
Berbeda dengan sosialisasi konvensional yang seringkali monoton, festival ini menyajikan materi keselamatan transportasi dengan cara yang lebih ringan. Peserta diajak memahami risiko kecelakaan dan bagaimana perilaku berkendara yang baik bisa menjadi langkah preventif. Suasana di lokasi terlihat meriah, dengan para siswa aktif bertanya dan berdiskusi langsung dengan pemateri.
Kegiatan ini juga dihadiri oleh berbagai unsur terkait, mulai dari Satlantas Polres Padang Pariaman, Dinas Perhubungan Provinsi Sumbar, Dinas Perhubungan Kabupaten Padang Pariaman, BPTD Sumbar, Satpol PP dan Damkar Padang Pariaman, hingga Ketua DPRD dari Fraksi NasDem.
Kepala Kantor Wilayah PT Jasa Raharja Sumatera Barat, Teguh Afrianto, menegaskan bahwa edukasi keselamatan harus dilakukan secara konsisten. Menurutnya, pelajar merupakan kelompok usia yang sangat penting untuk diberikan pemahaman tentang budaya tertib berlalu lintas sejak dini.
“Keselamatan lalu lintas merupakan tanggung jawab bersama. Kami berharap melalui festival ini para pelajar semakin sadar akan pentingnya disiplin di jalan raya dan mampu menjadi pelopor keselamatan di lingkungan sekolah maupun masyarakat,” ujar Teguh Afrianto.
Ia menambahkan, sinergi antara pemerintah, kepolisian, dunia pendidikan, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi faktor utama dalam upaya menekan angka kecelakaan lalu lintas, terutama yang melibatkan usia muda. Melalui kegiatan ini, Jasa Raharja Sumbar kembali menegaskan komitmennya untuk mendukung program edukasi keselamatan transportasi di Sumatera Barat sebagai langkah preventif.
Festival ini menjadi salah satu bukti bahwa pendekatan edukatif yang dikemas secara atraktif lebih mudah diterima oleh generasi muda dibandingkan sekadar himbauan atau razia di jalan. Para guru yang mendampingi siswanya pun mengapresiasi metode ini karena dinilai lebih membekas di ingatan para pelajar.