4 Kekuatan Utama Kota Padang Menuju UNESCO Gastronomy City 2027, dari Rendang hingga Tradisi Bajamba

Penulis: Maruli Sinaga  •  Senin, 15 Juni 2026 | 18:57:31 WIB
Tim ahli LPPM UNP memetakan empat kekuatan utama gastronomi Kota Padang menuju UNESCO Gastronomy City 2027.

PADANG — Tim ahli dari Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNP mengidentifikasi empat kekuatan utama yang menjadi modal Kota Padang dalam ajang bergengsi UNESCO Gastronomy City. Target pencapaian status tersebut ditetapkan pada 2027.

Modal Utama: Lebih dari Sekadar Rasa

"Yang ingin kita tunjukkan bukan hanya makanannya, tetapi ekosistem gastronominya," kata perwakilan tim ahli penyusun peta jalan gastronomi dari LPPM UNP, Haris Satria, di Padang, Senin.

Menurut Haris, ekosistem itu mencakup tradisi, budaya, pelaku usaha, komunitas, hingga dukungan akademisi dan pemerintah yang bersama-sama menjaga warisan tersebut. Kekuatan pertama adalah kuliner Padang yang sudah mendunia, seperti rendang yang dinobatkan sebagai makanan terlezat dunia.

Kota Tua dan Akulturasi Budaya

Kekuatan kedua adalah kawasan heritage Kota Tua Padang yang menyimpan jejak sejarah dan arsitektur kolonial. Kawasan ini dinilai bisa menjadi daya tarik wisata gastronomi yang terintegrasi.

Ketiga, keberagaman etnis di Padang—mulai dari Minang, Tionghoa, India, hingga Arab—telah membentuk akulturasi budaya yang kaya. Perpaduan ini melahirkan variasi kuliner unik yang tidak ditemukan di daerah lain.

Tradisi Bajamba: Diplomasi Budaya di Meja Makan

Kekuatan keempat adalah tradisi makan bajamba, yaitu makan bersama dalam satu wadah besar yang mencerminkan nilai kebersamaan dan diplomasi budaya masyarakat Minangkabau. Tradisi ini dinilai UNESCO sebagai elemen intangible heritage yang kuat.

Peta jalan gastronomi 2026–2030 diharapkan menjadi arah strategis pengembangan gastronomi Kota Padang secara berkelanjutan. Dokumen ini sekaligus menjadi dasar pengajuan ke UNESCO Creative Cities Network (UCCN).

Kolaborasi Pentaheliks dan Dukungan SDGs

Selain penyusunan peta jalan, kolaborasi pentaheliks—pemerintah, akademisi, komunitas, media, dan pelaku usaha—dinilai penting. Penilaian UNESCO tidak hanya melihat kekayaan kuliner, tetapi juga komitmen pemangku kepentingan dalam menjaga, mengembangkan, serta mempromosikan gastronomi sebagai identitas kota.

Sebagai lembaga yang mengoordinasikan riset dan pengabdian, LPPM UNP memiliki peran strategis dalam penyusunan peta jalan berbasis kajian ilmiah. Keterlibatan UNP diharapkan memperkuat landasan akademik dan keberlanjutan program.

Upaya ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), antara lain poin 4 (pendidikan berkualitas melalui riset), poin 8 (pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi kreatif), poin 11 (kota dan permukiman berkelanjutan melalui pelestarian warisan budaya), serta poin 17 (kemitraan multi-pihak untuk mencapai tujuan).

Reporter: Maruli Sinaga
Sumber: sumbar.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top