AGAM — Perang Manggopoh yang meletus pada 15 Juni 1908 menjadi bukti perlawanan rakyat Minangkabau terhadap kebijakan kolonial Hindia Belanda. Pemicunya adalah penolakan terhadap pemberlakuan pajak belasting yang dianggap tidak adil. Ketika banyak daerah lain telah menyerah, masyarakat Manggopoh justru melanjutkan perjuangan bersenjata.
Vasko Ruseimy menilai sosok Mandeh Siti Manggopoh sebagai teladan yang relevan sepanjang masa. Keberanian para pejuang menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan.
"Perjuangan para pahlawan harus kita maknai sebagai sumber inspirasi untuk membangun daerah dan bangsa. Semangat keberanian, kepedulian, serta pengorbanan yang ditunjukkan para pejuang Manggopoh harus tetap hidup dalam diri generasi hari ini," ujar Vasko dalam sambutannya.
Pemerintah Provinsi Sumatera Barat berkomitmen menjaga memori kolektif perjuangan melalui pelestarian sejarah dan pendidikan karakter. Vasko menegaskan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pahlawannya.
"Peringatan seperti ini penting untuk memastikan generasi muda tidak tercerabut dari akar sejarahnya," tambah Wagub Sumbar tersebut.
Wakil Bupati Agam, Muhammad Iqbal, menjelaskan bahwa Perang Manggopoh dan Perang Kamang merupakan satu kesatuan gerakan rakyat Agam dalam menentang kolonialisme. Kedua peristiwa itu memiliki nilai heroisme yang tinggi dan tercatat dalam sejarah perjuangan bangsa.
"Hari ini kita berdiri di atas tanah yang dahulu menjadi saksi keberanian masyarakat Manggopoh. Perang Manggopoh yang meletus pada 15 Juni 1908 merupakan bentuk nyata perlawanan rakyat Minangkabau terhadap ketidakadilan dan pemaksaan kebijakan oleh penjajah," ujar Iqbal usai upacara.
Muhammad Iqbal mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus meneladani semangat perjuangan rakyat Manggopoh. Para pejuang dinilai layak dikenang sebagai pahlawan bangsa yang mengorbankan jiwa dan raga demi mempertahankan kehormatan masyarakat Minangkabau.
"Semoga peringatan ini semakin memperkuat jati diri kita sebagai generasi pejuang yang berani menegakkan kebenaran dan memerangi kemungkaran," pungkasnya.
Upacara peringatan 117 Tahun Perang Manggopoh turut dihadiri unsur Forkopimda Plus Kabupaten Agam, anggota DPRD Provinsi Sumbar, DPRD Kabupaten Agam, serta tokoh masyarakat, ninik mamak, alim ulama, dan bundo kanduang.