Dalam paparannya di Padang, Minggu, Prof Mas Mera menjelaskan aspek pertama yang harus diperhatikan adalah identifikasi gaya dominan di lokasi. Langkah ini krusial untuk menentukan apakah masalah utama berasal dari energi gelombang yang datang tegak lurus atau transpor sedimen yang bergerak sejajar pantai.
"Pantai tersebut akan sangat berbahaya bagi masyarakat dan wisatawan yang berenang," ujar Prof Mas Mera.
Ia mencontohkan, jika sebuah pantai mengalami abrasi akibat gelombang tegak lurus tetapi dipaksakan membangun groin dengan tipologi yang salah, struktur itu tidak hanya gagal menahan abrasi. Lebih dari itu, bangunan tersebut berpotensi memicu timbulnya rip current buatan di sepanjang sisi struktur. Arus balik yang kuat ini menjadi ancaman serius bagi pengunjung pantai.
Aspek kedua yang ditekankan pakar Unand itu adalah kesesuaian tipologi bangunan. Artinya, tidak boleh memaksakan satu jenis struktur tertentu jika karakteristik alam membutuhkan bentuk lain. Misalnya, groin hanya cocok untuk arus sejajar pantai, sementara gelombang yang datang tegak lurus lebih tepat dihadapi dengan pemecah gelombang atau breakwater.
"Di belakang pemecah gelombang akan terbentuk tombolo sehingga area tersebut bisa ditanami pohon. Selain itu, pantai di belakangnya juga dapat dimanfaatkan sebagai tempat bermain wisatawan termasuk anak-anak," jelas Prof Mas Mera.
Aspek ketiga adalah sinkronisasi kinerja. Posisi dan orientasi struktur bangunan harus dirancang agar mampu memicu akresi atau penambahan lahan secara alami. Dengan kata lain, bangunan pelindung tidak boleh sekadar menahan, melainkan juga bekerja sama dengan dinamika alam untuk memulihkan garis pantai.
Kegagalan fungsional akibat ketidaktepatan tipologi ternyata bisa diatasi. Prof Mas Mera mencontohkan keberhasilan rekayasa berbasis karakteristik alam di Pantai Muaro Putuih, Kabupaten Agam. Groin konvensional yang sebelumnya tidak efektif menahan gelombang tegak lurus kemudian dimodifikasi menjadi T-Head Groin.
Penambahan kepala groin ini berhasil mengonversi fungsi struktur menjadi pemecah gelombang. Hasilnya, tercipta zona tenang di belakang bangunan yang memicu sedimentasi masif. Ini membuktikan bahwa pemahaman terhadap mekanisme kerja fisik struktur dalam merespons energi hidraulika lokal menjadi kunci utama keberhasilan mitigasi bencana hidrometeorologi di kawasan pesisir Sumatera Barat.