PADANG PARIAMAN — Seorang warga bernama Ronandi (60) terlihat memasang pintu di shelter mandiri yang dibangunnya di Korong Surantih Parak Pisang, Sungai Buluh Utara, Jumat (10/7/2026). Bangunan seluas 3 x 2 meter itu dirancang sebagai tempat evakuasi darurat jika banjir bandang kembali terjadi.
"Kami takut karena kejadian November lalu sangat cepat. Air datang tiba-tiba," ujar Ronandi saat ditemui di lokasi pembangunan.
Banjir bandang yang melanda kawasan tersebut pada November 2025 dipicu oleh runtuhnya tebing sungai dan sedimentasi tinggi di aliran sungai. Material lumpur dan kayu terbawa arus deras, merendam puluhan rumah warga dalam hitungan menit.
Kondisi geografis daerah yang berada di lereng perbukitan membuat aliran air dari hulu langsung mengarah ke pemukiman. Warga mengaku tidak memiliki waktu cukup untuk menyelamatkan barang berharga saat kejadian.
Shelter yang dibangun Ronandi memiliki tinggi tiga meter dari permukaan tanah, dengan struktur kayu dan triplek. Bangunan ini dilengkapi tangga darurat dan pintu yang dapat ditutup rapat untuk mencegah masuknya air.
Luas shelter 3 x 2 meter dirancang untuk menampung satu keluarga inti. Warga lain di sekitar lokasi disebutkan mulai meniru inisiatif serupa, meski dengan bahan seadanya.
"Kami tidak punya banyak pilihan. Pemerintah belum bisa membangun tanggul permanen karena anggaran terbatas. Jadi kami lakukan sendiri," tambah Ronandi.
Hingga pertengahan 2026, kondisi tebing sungai di beberapa titik di Sungai Buluh Utara masih rawan longsor. Sedimentasi tinggi membuat dasar sungai dangkal, sehingga debit air hujan deras langsung meluap ke daratan.
Pemerintah Kabupaten Padang Pariaman sebelumnya mencatat setidaknya lima titik rawan banjir bandang di wilayah tersebut. Namun, penanganan struktural seperti normalisasi sungai dan pembangunan bronjong belum sepenuhnya terealisasi karena keterbatasan APBD.
Warga berharap pemerintah daerah segera melakukan normalisasi sungai dan perkuatan tebing di titik-titik kritis. Sementara itu, shelter mandiri seperti yang dibangun Ronandi menjadi solusi sementara yang dianggap paling realistis.
Beberapa warga lain berencana membangun shelter serupa secara gotong royong. Mereka mengumpulkan kayu bekas dan triplek dari sisa bangunan yang rusak akibat banjir November lalu.