5 Desa Wisata di Banten yang Memesona, dari Baduy hingga Pesisir Selatan

Penulis: Ronal Siregar  •  Minggu, 26 Juli 2026 | 07:11:31 WIB
Warga Baduy Luar beraktivitas di permukiman adat tanpa listrik di Desa Kanekes, Lebak, Banten.

Banten punya sisi lain yang jarang terekspos di brosur agen perjalanan. Di balik hiruk-pikuk kota Serang dan kawasan industri Cilegon, ada lorong-lorong desa yang hidup dengan ritme sendiri. Saya pertama kali menyadarinya saat singgah di Kampung Baduy pada 2018. Bukan cuma soal pemandangan, tapi cara mereka mengelola ruang dan waktu—tanpa listrik, tanpa kendaraan bermotor—benar-benar menggeser cara pandang soal "wisata".

Artikel ini bukan sekadar daftar tempat. Saya akan memandu kamu menentukan desa wisata mana yang cocok dengan minatmu, berdasarkan pengalaman langsung dan obrolan dengan warga lokal. Ada lima pilihan, masing-masing dengan karakternya sendiri.

Ciri Khas Desa Wisata di Banten

Desa wisata di Banten terbagi dalam dua tipe utama: adat dan alam. Yang adat dipimpin oleh lembaga tradisional—di Baduy misalnya, keputusan wisata diatur oleh puun (ketua adat). Yang alam, seperti desa-desa di pesisir selatan Pandeglang, mengandalkan pantai dan hutan lindung.

Perbedaan ini penting karena memengaruhi apa yang boleh dan tidak boleh kamu lakukan. Di desa adat, pakaian dan perilaku dijaga ketat. Di desa pesisir, kamu bisa lebih leluasa berenang atau trekking.

1. Kampung Baduy, Desa Kanekes

Ini yang paling ikonik. Kampung Baduy terletak di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, sekitar 40 km dari Rangkasbitung. Saya butuh tiga jam perjalanan dari Serang: naik angkot ke Rangkasbitung, lalu ojek ke Ciboleger—pintu masuk utama.

Yang membuat Baduy istimewa bukan hanya rumah-rumah panggung tanpa paku, tapi juga aturan adat yang melarang penggunaan sabun dan sampo sintetis di sungai. Fotografi diperbolehkan di Baduy Luar, tapi dilarang di Baduy Dalam. Sebelum masuk, siapkan kain sarung dan ikat kepala—mereka menyediakan di posko dengan biaya sukarela.

2. Desa Wisata Alam Pesisir Selatan

Sebut saja desa-desa di sepanjang Pantai Panimbang hingga Tanjung Lesung. Wilayah ini punya lebih dari sepuluh desa yang mengelola homestay dan paket mangrove tour. Saya pernah menginap di salah satu rumah warga di Desa Caringin, Cikeusik. Harga menginap bervariasi—cek langsung ke pengelola desa karena bisa nego.

Keunggulan desa pesisir: kamu bisa belajar menangkap kepiting bakau bersama nelayan, ikut menanam bibit mangrove, atau sekadar bersepeda di pematang sawah. Waktu terbaik datang antara April dan Oktober, saat ombak tenang.

3. Desa Budaya di Sekitar Gunung Karang

Di lereng Gunung Karang, ada beberapa desa yang masih mempertahankan kesenian debus dan pencak silat asli Banten. Salah satunya di Cimarga, Pandeglang. Saya sempat menyaksikan pertunjukan debus di halaman rumah kepala desa—mereka menyambut wisatawan dengan tarian dan atraksi kebal senjata tajam.

Tidak ada tiket resmi, cukup memberi sumbangan seikhlasnya ke kelompok kesenian setempat. Pastikan kamu berkunjung pada hari Minggu atau hari besar desa, karena latihan rutin biasanya tengah pekan.

4. Desa Wisata Agro di Lebak Utara

Di jalur Sajira-Malingping, banyak desa yang membuka kebun durian dan kopi untuk wisatawan. Saya mampir ke Desa Cipinang—di sana pengelola mengajak saya memetik durian langsung dari pohon. Rasanya berbeda, lebih legit karena matang alami.

Kebun-kebun ini umumnya buka saat musim panen (Desember–Februari untuk durian, Juni–Agustus untuk kopi). Tidak ada biaya masuk, kamu cukup membayar hasil petik sesuai berat. Tips: bawa sepatu boot karena tanahnya becek.

5. Desa Ekowisata di Taman Nasional Ujung Kulon

Meski TNUK terkenal dengan badak jawa, desa-desa penyangga di sekitarnya—seperti Desa Tamanjaya dan Desa Cibandawo—menawarkan pengalaman berbeda. Saya mengikuti tur mangrove dan birdwatching di Cibandawo, dipandu oleh pemuda setempat yang terlatih.

Aksesnya: dari Labuan naik angkutan umum ke Sumur, lalu lanjut ojek ke desa. Opsi ini lebih murah ketimbang menginap di resort TNUK. Selain itu, kamu bisa belajar membuat kerupuk udang rumahan atau ikut melaut bersama warga.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah semua desa wisata di Banten bisa dikunjungi tanpa izin khusus?
Untuk desa adat seperti Baduy Dalam, kamu butuh izin dari pemangku adat. Baduy Luar lebih longgar. Desa pesisir dan agro biasanya tidak masalah, cukup lapor ke ketua RT setempat.

Kapan waktu terbaik berkunjung?
Musim kemarau (April–Oktober) paling ideal. Hindari Januari dan Februari karena hujan deras bisa mengisolasi akses jalan tanah di daerah Lebak dan Pandeglang.

Apakah ada transportasi umum ke desa-desa ini?
Ada, tapi kombinasi. Dari Serang atau Rangkasbitung, naik angkutan pedesaan (elf) ke kecamatan, lalu ojek. Saya sarankan sewa motor jika kamu nyaman, karena jadwal angkutan jarang dan berhenti sebelum magrib.

Berapa biaya yang perlu disiapkan?
Tidak ada patokan. Untuk homestay, biasanya kisaran Rp100.000–Rp200.000 per malam dengan makan. Aktivitas seperti trekking atau belajar tari dikelola dengan sistem sumbangan. Cek langsung ke pengelola desa melalui nomor yang biasanya terpampang di papan informasi desa.

Tips utama sebelum pergi?
Bawa uang tunai secukupnya—ATM jarang di desa. Hormati aturan setempat: di desa adat, jangan sentuh makanan sebelum dipersilakan. Di desa pesisir, buang sampah sembarangan sangat dilarang.

Dari Baduy yang beringsut di antara bukit hingga desa nelayan yang menyerap ritme pasang surut, Banten menawarkan fragmen Indonesia yang tak ternceritakan di brosur. Satu hal yang saya pelajari: semakin kamu melangkah dari jalur utama, semakin besar cerita yang kamu bawa pulang.

Reporter: Ronal Siregar
Back to top