BKSDA Sumbar Evakuasi Harimau Sumatera Betina di Agam, Sempat Resahkan Warga Palupuh

Penulis: Bastian Sihombing  •  Jumat, 14 Agustus 2026 | 15:57:31 WIB
Tim gabungan BKSDA Sumatera Barat mengevakuasi seekor harimau Sumatera betina dari permukiman warga di Jorong Palimbatan, Nagari Pasie Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Selasa (11/8/2026).

AGAM — Seekor harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) betina berhasil dievakuasi tim gabungan BKSDA Sumatera Barat dari kawasan permukiman warga di Jorong Palimbatan, Nagari Pasie Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Selasa (11/8/2026). Satwa liar berusia sekitar 2,5 hingga 3 tahun itu sebelumnya beberapa kali dilaporkan menerkam ternak milik warga.

Dievakuasi dengan Kandang Perangkap Berumpan Ternak

Harimau tersebut masuk ke dalam kandang perangkap yang dipasang petugas. Umpan yang digunakan adalah ternak yang selama ini menjadi sasaran mangsa satwa tersebut. Kepala BKSDA Sumbar, Hartono, membenarkan proses evakuasi ini dan menyebut harimau dalam kondisi sehat serta aman.

“Berdasarkan pantauan kamera trap, populasi harimau di Palupuh masih sangat tinggi. Karena itu, perlu dilakukan analisis untuk menentukan langkah selanjutnya,” ujar Hartono.

Belum Bisa Dilepasliarkan, Harimau Dititipkan ke Pusat Rehabilitasi

Setelah dievakuasi, harimau betina tersebut langsung dibawa ke lokasi rehabilitasi untuk menjalani penanganan lebih lanjut. BKSDA belum bisa memutuskan lokasi pelepasliaran karena masih melakukan kajian menyeluruh terhadap sejumlah aspek penting.

Kajian yang tengah berjalan mencakup survei populasi harimau di kawasan Palupuh, kondisi habitat, serta tingkat keamanan lokasi—baik bagi satwa itu sendiri maupun masyarakat di sekitarnya. Hartono menegaskan, keputusan pelepasliaran nantinya akan didasarkan pada hasil survei dan analisis lapangan agar harimau dapat kembali ke habitat yang sesuai tanpa meningkatkan potensi konflik dengan warga.

Mengapa Konflik Manusia dan Satwa Terjadi?

Kemunculan harimau di sekitar permukiman warga selama ini dinilai telah menimbulkan interaksi negatif. Kondisi ini menjadi dasar pemasangan kandang perangkap oleh tim BKSDA. Konflik antara manusia dan satwa liar di kawasan Palupuh kerap dipicu oleh menyempitnya habitat alami harimau akibat alih fungsi lahan.

Selama proses kajian berlangsung, harimau betina tersebut akan tetap ditempatkan di pusat rehabilitasi. BKSDA memastikan seluruh aspek—termasuk daya dukung habitat dan keamanan kawasan—akan menjadi pertimbangan utama sebelum memutuskan lokasi pelepasliaran.

Reporter: Bastian Sihombing
Sumber: fajarharapan.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top