SUMATERA BARAT — Jakarta, TopBusiness – International Battery Summit (IBS) 2026 yang digelar di JIExpo Convention Centre & Theatre, Jakarta, Rabu (26/8/2026), menjadi panggung bagi pemerintah untuk memetakan arah industri baterai nasional. Asisten Deputi Energi dan Infrastruktur Telekomunikasi Kementerian Koordinator Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah, Ridha Yasser, membuka forum itu dengan sebuah peringatan keras: memiliki tambang nikel bukan jaminan menjadi pemain utama.
“Memiliki sumber daya baterai benar-benar memberi Indonesia tiket masuk ke industri baterai global, namun tiket itu tidak memungkinkan kita berdiri di jalan depan,” ujarnya dalam sambutan pembukaan.
Data yang dipaparkan dalam IBS 2026 menunjukkan pasar domestik mulai bergerak dari sekadar potensi menjadi permintaan nyata. Populasi kendaraan listrik roda dua dan roda empat telah mencapai 493.307 unit per Juni 2026.
Di sisi produksi, Indonesia sudah memiliki kapasitas tahunan untuk 410.000 mobil listrik, 2,5 juta sepeda motor listrik, dan 7.500 bus listrik. Investasi yang masuk ke ekosistem ini tercatat sekitar Rp 30,5 triliun.
Ridha menilai angka-angka itu menjadi basis permintaan yang penting. Industri baterai tidak bisa selamanya bergantung pada pasar ekspor karena keberlanjutan rantai nilai membutuhkan daya serap dari dalam negeri.
Permintaan baterai ke depan tidak akan datang dari kendaraan listrik semata. Ridha menyebut elektrifikasi dan pertumbuhan energi terbarukan akan mendorong kebutuhan sistem penyimpanan energi (energy storage system) secara masif.
“Ketika elektrifikasi dan energi terbarukan terus berkembang, kita perlu meningkatkan kapasitas untuk menyimpan energi,” katanya.
Artinya, baterai juga bakal dipakai untuk bus, kendaraan logistik, sektor industri, hingga penyimpanan listrik dari pembangkit surya dan angin. Pasar yang tadinya hanya mengandalkan roda dua dan roda empat, kini punya segmen tambahan yang jauh lebih besar.
Ridha merinci enam kelompok infrastruktur yang wajib terhubung jika Indonesia serius membangun industri baterai dari hulu ke hilir. Pertama, infrastruktur listrik yang cukup, stabil, dan andal untuk memasok pabrik pengolahan material hingga produksi sel baterai.
Kedua, kawasan industri yang siap menampung kegiatan dari pengolahan mineral, manufaktur komponen, sampai perakitan kendaraan listrik. Ketiga, logistik yang mampu menghubungkan tambang, fasilitas pengolahan, pelabuhan, dan pasar.
Keempat, konektivitas antarpulau mengingat Indonesia adalah negara kepulauan dengan rantai pasok yang tersebar. Dua lainnya adalah infrastruktur air, lingkungan, serta infrastruktur digital yang menopang operasional industri modern.
“Tidak peduli seberapa berkembang teknologi baterai, listrik, air, industri, jaringan, kapal, logistik, dan konektivitas penting bagi industri untuk berkembang,” tegas Ridha.
Pemerintah menilai Indonesia berada di momentum penting. Di satu sisi, cadangan mineral menjadi modal awal. Di sisi lain, transisi energi global menciptakan permintaan baru yang belum pernah ada sebelumnya.
“Pertanyaannya tidak lagi apakah Indonesia akan memiliki bagian dari era baterai, namun seberapa banyak dari era baterai itu kita akan bangun di sini, di Indonesia,” kata Ridha.
Pernyataan itu menegaskan bahwa target pemerintah bukan sekadar mengekspor bahan mentah atau setengah jadi. Tujuannya adalah membangun rantai nilai penuh di dalam negeri agar manfaat ekonomi yang diraih jauh lebih besar.