Listrik PLN 24 Jam Masuk Desa Patialo, 108 KK Tinggalkan Lampu Teplok

Penulis: Ronal Siregar  •  Selasa, 29 September 2026 | 11:34:01 WIB
Warga Desa Patialo, Mandailing Natal, kini menikmati listrik PLN 24 jam melalui program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL).

SUMATERA BARAT — Sebanyak 108 kepala keluarga di Desa Patialo, Kecamatan Kotanopan, Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, kini menikmati listrik PLN selama 24 jam berkat program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) Kementerian ESDM. Sebelumnya, warga mengandalkan lampu teplok dan listrik swadaya dari pembangkit mikrohidro yang kerap putus. Masuknya listrik stabil membuka peluang baru bagi pendidikan, layanan kesehatan, dan ekonomi warga desa.

Medan berbukit dan akses jalan yang terbatas tidak menghentikan perluasan jaringan. Bagi warga, kehadiran listrik stabil mengubah rutinitas harian yang selama bertahun-tahun bergantung pada minyak tanah dan aliran kincir air.

Belajar Tanpa Takut Lampu Mati

Asmaul Husna, warga Desa Patialo yang kini menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo, mengingat betul masa-masa belajar dengan lampu teplok. Listrik dari kincir air sempat membuka akses internet, tetapi jaringannya sering terputus.

"Dulu, kami belajar membaca dan berhitung menggunakan lampu teplok. Setelah ada listrik dari kincir air (PLTMH), kami mulai bisa memakai WiFi, tapi jaringannya sering terputus-putus, apalagi saat saya harus belajar lewat Zoom," tutur Husna, Selasa (29/9/2026).

Kisah serupa datang dari guru ngaji setempat, Nurlina Lubis. Kegiatan mengaji kerap terhenti ketika minyak tanah habis atau lampu mati.

"Dulu ngaji di sini pakai lampu teplok. Kalau mati lampu atau minyak tanah habis, anak-anak jadi tidak bisa mengaji lagi. Mereka sedih," ujar Nurlina.

Kayu Manis dan Harapan Ekonomi Baru

Bagi pekebun kayu manis M. Jamil Lubis, listrik PLN membuka ruang untuk mengembangkan usaha. Selama ini, hasil kebun dan aktivitas ekonomi warga terbatas karena tidak ada pasokan listrik yang andal.

"Sebagai warga Desa Patialo, saya mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah yang telah membantu sehingga listrik PLN bisa masuk ke desa kami," katanya.

Bupati Mandailing Natal Saipullah Nasution menilai listrik yang stabil memberi masyarakat ruang merencanakan kegiatan ekonomi. Menurutnya, kehadiran listrik bukan sekadar penerangan, melainkan prasyarat untuk membuka usaha dan meningkatkan produktivitas.

"Kalau listrik sudah menyala secara stabil, kehidupan masyarakat sudah bisa merencanakan kegiatan-kegiatan ekonomi," ujar Saipullah.

Komitmen PLN di Wilayah Terpencil

Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyebut listrik sebagai fondasi pembangunan. Akses yang terbuka, kata dia, berdampak langsung pada pendidikan, kesehatan, dan perekonomian lokal.

"Kami percaya bahwa listrik merupakan fondasi pembangunan yang mampu membuka akses pendidikan, memperkuat layanan kesehatan, menggerakkan ekonomi lokal, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat," tutur Darmawan.

Direktur Distribusi PLN Arsyadany Ghana Akmalaputri menegaskan perseroan akan terus memperluas jaringan ke wilayah yang belum terlistriki. Desa Patialo menjadi salah satu contoh tantangan geografis yang berhasil ditembus.

"Membangun jaringan distribusi di wilayah seperti Desa Patialo adalah wujud komitmen PLN untuk hadir di tengah masyarakat. Medan berbukit dan akses jalan yang terbatas tidak menjadi penghalang," ujarnya.

Masuknya listrik ke Desa Patialo menambah daftar desa di Sumatera Utara yang lepas dari ketergantungan lampu teplok. Bagi 108 keluarga di Kotanopan, sambungan 24 jam itu bukan hanya soal terang, tetapi soal anak-anak yang bisa belajar tanpa khawatir jaringan putus dan pekebun yang bisa merancang masa depan usahanya.

Reporter: Ronal Siregar
Sumber: rentak.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top