PADANG — Kepala Stasiun Meteorologi Minangkabau, Decky Irmawan, menjelaskan bahwa peningkatan potensi hujan dipengaruhi aktivitas Madden-Julian Oscillation, Gelombang Kelvin, sirkulasi siklonik, daerah konvergensi, serta belokan angin yang aktif di Sumatera Barat. Anomali positif suhu muka laut di perairan barat Sumbar turut mendukung pertumbuhan awan hujan secara intensif.
Kondisi itu berpotensi memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, banjir bandang, dan tanah longsor. Warga diminta mengenali titik rawan bencana di lingkungan masing-masing dan memantau informasi cuaca sebelum beraktivitas.
Daerah kategori Siaga meliputi Kabupaten Kepulauan Mentawai, Pasaman Barat, Kota Padang, Pesisir Selatan, Pasaman, Kabupaten Solok, Solok Selatan, dan Dharmasraya. Status Siaga menandakan potensi dampak cuaca ekstrem yang lebih tinggi dibanding wilayah lain.
Sementara itu, 11 daerah masuk kategori Waspada: Kabupaten Agam, Kota Bukittinggi, Tanah Datar, Kota Padang Panjang, Padang Pariaman, Kota Pariaman, Lima Puluh Kota, Kota Payakumbuh, Kota Sawahlunto, dan Sijunjung.
Gubernur Mahyeldi Ansharullah meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama mereka yang tinggal di sekitar aliran sungai, kawasan perbukitan, dan wilayah rawan bencana lainnya.
"Mencegah lebih baik daripada mengobati. Kewaspadaan sangat penting karena kita tidak pernah tahu kapan bencana akan terjadi," ujar Mahyeldi di Padang, Jumat (23/10/2026).
Mahyeldi juga mengingatkan warga mengantisipasi kebutuhan air bersih selama periode cuaca ekstrem. Curah hujan tinggi berpotensi mengganggu distribusi air bersih, termasuk layanan perusahaan daerah air minum.
"Masyarakat diimbau untuk memastikan ketersediaan air bersih untuk beberapa hari ke depan sebagai langkah antisipasi apabila terjadi gangguan distribusi akibat cuaca ekstrem," tambahnya.
Decky meminta masyarakat segera mencari lokasi aman apabila terjadi hujan berintensitas tinggi dalam durasi panjang, peningkatan debit atau tinggi muka air sungai, maupun munculnya material longsoran.
"Masyarakat juga diminta segera mencari lokasi yang aman apabila terjadi hujan berintensitas tinggi dalam durasi panjang, peningkatan debit atau tinggi muka air sungai, maupun munculnya material longsoran," tuturnya.
Peringatan dini berlaku tiga hari, 23–25 Oktober 2026. Warga diimbau memantau pembaruan informasi cuaca dari BMKG secara berkala selama periode tersebut.