SAWAHLUNTO — Wali Kota Sawahlunto Riyanda Putra membuka Sawahlunto Heritage Pushbike Championship 2026 didampingi Wakil Wali Kota Jeffry Hibatullah. Pembukaan berlangsung di kawasan Balai Kota Sawahlunto, Sabtu (24/10/2026), dengan peserta anak-anak yang datang tidak hanya dari Sumatera Barat.
Riau, Jambi, dan sejumlah daerah sekitar ikut mengirimkan perwakilan. Kehadiran peserta membawa rombongan orang tua dan keluarga pendamping yang memenuhi kawasan lomba.
Panitia menyiapkan 11 kategori dalam kejuaraan ini. Pembagian kelas memberi ruang bagi anak-anak dengan tingkat kemampuan berbeda untuk tampil sesuai kelompok usianya.
Pushbike sendiri dikenal sebagai sepeda tanpa pedal yang dipakai anak untuk melatih keseimbangan sebelum beralih ke sepeda biasa. Lewat perlombaan, kemampuan motorik anak terasah sejak dini.
Olahraga pushbike menuntut anak menjaga keseimbangan, membaca lintasan, dan mengambil keputusan cepat. Tiga hal itu melatih konsentrasi serta kedisiplinan di luar arena.
Kegiatan ini juga mempertemukan peserta dari berbagai daerah dalam suasana kompetisi yang sehat. Anak-anak belajar menaati aturan, menghargai sesama peserta, dan menerima hasil perlombaan dengan sikap sportif.
Riyanda Putra mengapresiasi partisipasi seluruh peserta. Ia juga menyambut keluarga yang datang dari berbagai daerah untuk mendampingi anak-anak mereka bertanding.
Menurut Riyanda, rombongan pendamping bisa memanfaatkan kunjungan untuk berbelanja sekaligus menikmati berbagai destinasi wisata di Kota Sawahlunto. Ajakan itu disampaikan saat pembukaan kejuaraan.
Balai Kota Sawahlunto menjadi lokasi pembukaan sekaligus pusat keramaian acara. Kawasan ini dikenal sebagai bagian dari kawasan bekas tambang batu bara yang kini ditata sebagai destinasi heritage.
Ratusan keluarga pendamping yang datang dari luar kota membuka peluang bagi pedagang di sekitar arena. Warung, toko oleh-oleh, dan pelaku UMKM setempat berkesempatan meraup pembeli selama kejuaraan berlangsung.
Pemkot Sawahlunto memakai even olahraga anak sebagai pintu masuk promosi wisata. Pola ini menyambungkan kegiatan kompetisi dengan kunjungan ke destinasi heritage kota.